Kembali aku melihat benda bundar yang terikat di pergelangan tangan
kiriku. Entah sudah berapa kali aku melihatnya selama kurang lebih satu
jam ini. Dua jarum di dalamnya terus berputar, pertanda aku telah
membuang waktuku dengan percuma. Tidak. Bukan aku, melainkan keadaan lah
yang telah membuang waktu yang kumiliki.
Satu jam telah berlalu, dimulai dari taxi yang kupesan tiba di depan
pagar rumahku. Seharusnya kini aku telah berada ditempat yang akan
kutuju. Namun kenyataannya setengah perjalanan pun belum aku tempuh.
"Pak, bisa cari jalan alternatif lain ? Saya buru-buru nih, Pak"
"Aduh Mas, ini juga kita udah lewat jalan pintas. Tapi tetep aja,
Mas. Macet. Maklum lah Mas, ini kan malam minggu. Banyak kendaraan dari
luar kota."
Kembali aku terdiam. Mencoba membuang keluh yang kurasakan dalam sebuah hembusan nafas panjang.
Yah... Supir taxi itu berkata nyatanya keadaan. Ini adalah malam
minggu, saat dimana kendaraan dengan plat nomor dari kota lain menjadi
mayoritas dijalanan kota ini. Saat dimana semua orang disarankan untuk
melonggarkan batas kesabaran mereka ketika berada dijalanan.
Aku menurunkan kaca pintu disampingku. Berharap angin malam dapat
sedikit mengendurkan ketegangan dalam sarafku. Seketika, deru laju
kendaraan terdengar jelas dalam rongga telingaku. Hembusan angin meniup
lembut helai rambutku. Temaram lampu kota biaskan rona wajahku. Hiruk
pikuk jalanan Kota Kembang kini dalam indera penglihatanku.
Tak ada yang bisa kulakukan selain duduk manis dikursi penumpang.
Antrian kendaraan masih terlihat memanjang, sebelum aku tiba dibatas
lampu lalu-lintas. Untuk selanjutnya memasuki antrian baru di lampu yang
lain. Hingga tiba di tempat seharusnya aku berada kini.
Kerlip lampu kota memang mampu sediki membiusku, hingga rasa bosan
sedikit tersingkir dari benakku. Namun kenyataan bahwa aku telah
terlambat membuat saraf di otakku sulit mengendur.
Kunyalakan lighter dalam genggamanku, bermaksud menyulut sebatang
'racun' yang telang aku selipkan terlebih dahulu diantara bibirku.
Mencoba memberi tambahan penenang dalam tubuhku. Menguapkan 'jengah'
yang kurasakan bersama sembulan asap beracun.
Namun belum sempat ujung rokokku terbakar, mataku menangkap
keberadaan benda mungil yang tergeletak disamping kemudi. Lama aku
menatapnya, sebelum akhirnya sebuah senyum tergurat dari bibirku.
"Maaf Pak, itu punya Bapak ?"
"Apa Mas ?"
"Itu yang disamping kemudi Bapak"
"Oh... Bukan Mas, itu punya penumpang sebelum Mas. Kayaknya terjatuh, kenapa, Mas mau ?"
"Hmmm... Saya beli boleh Pak ?"
"Walah... Ga usah Mas, buat si Mas aja, lagian saya ga doyan"
"Beneran Pak. Makasih deh kalo gitu"
Selain binar lampu kota, supir taxi disampingku ini juga mampu
menyingkirkan rasa jenuh dikepalaku. Lelaki yang telah cukup berumur ini
sangat ramah untuk ukuran seorang supir taxi. Kami sedikit berbincang
ditengah kemacetan yang menjebak kami.
Dan dalam genggamanku kini terdapat sebuah benda pemberian Sang
Supir taxi. Sebuah senyum lebar mengembang dari bibirku. Layaknya bocah
yang mendapat sebuah permen. Benda dalam genggaman ku ini memang sebuah
permen. Lollypop lebih tepatnya. Namun sayang, aku bukan lagi seorang
bocah. Meski perasaanku kini tak jauh berbeda dengan seorang bocah.
Kupandangi benda mungil yang harganya tak jauh beda dengan sebatang
'racun' yang tadi akan kuhisap. Kembali kilasan masa lalu berputar
dikepalaku. Adegan dimana ia membujuk ku untuk berhenti merokok dengan
lollypop sebagai gantinya. Lollypop yang sama persis seperti yang aku
pegang kini.
Masih jelas terekam dalam ingatanku senyumnya kala itu. Senyum yang
ia simpulkan ketika mendapati wajahku cemberut setelah ia berhasil
merampas sebungkus racun milikku. "Percayalah, setangkai lollypop ini
mampu memberikan ketenangan lebih dibandingkan sebung racun milik mu
itu." Begitu ia berkata. Luluh aku dibuatnya. Hingga aku berhasil
membuang jauh kebiasaan burukku itu. Namun kini candu akan batang racun
itu kembali dihidupku. Setelah depresi akan kehilangan dirinya
menghinggapiku.
Lama aku terbawa dalam lamunan bersama lollypop dimulutku. Menikmati
manis kandungan gula didalamnya. Merasakan lembut teksturnya. Memahami
unik aromanya. Rasa tenang kini menjalar disaraf otakku. Bersama dengan
datangnya kerinduan yang mendalam terhadap ia yang telah tiada.
Perlahan, satu per satu titik kemacetan telah kami lewati. Menembus
padatnya Jl.Ir.H Djuanda di malam minggu memang bukan persoalan mudah.
Dan kini kakiku telah berpijak pada tanah. Melangkah menuju tempat yang
telah dijanjikan. Dihadapanku berdira tegak bangungan mewah yang
bernuansa minimalis. Sebuah resto yang menjadi primadona para pelancong.
Selain karena masakannya yang terkenal, pemandang yang ditawarkan resto
ini juga menjadi daya tarik utama. Tak heran karena resto ini terletak
di kawasan Dago atas. Dimana panorama kota bandung akan terlihat sangat
indah.
Namun mataku mendapati suatu kejanggalan dihadapanku. Resto ini nampak
sepi. Suatu hal yang sangat jarang terjadi kecuali resto ini dalam
keadaan tidak beroperasi. Segera aku menghubungi Pram.
"Kamu dimana?" ucapku setelah ia menjawab panggilanku.
"Kamu langsung ke resepsionis aja yah. Tanya meja atas nama ku."
"Tapi Pra...m" panggilan pun terputus sebelum kalimat ku selesai
diucapkan. Yah... Walaupun resto ini sepi tapi aku masih melihat ada
seorang resepsionis yang berjaga di pintu masuk. Pertanda bahwa resto
ini tidak dalam keadaan tutup. Segera aku menghampirinya.
"Selamat malam
mba"
"Selamat malam Pak.Ada yang bisa saya bantu?" jawabnya ramah.
"Meja atas nama Pramudya sebelah mana ya Mba?"
"Bapak ini yang bernama Krisna'?" wanita ini malah bertanya balik
kepadaku.seolah ada banya meja yang dipesan dengan nama Pramudya. Sehingga ia harus memastikannya terlebih dahulu.
"Iya, betul Mba"
"Baiklah. Silahkan ikut saya" wanita itu tersenyum.lalu membawaku ke sebuah pintu yang kutahu bukan pintu utama dari tempat ini.
"Silahkan Pak, Pak Pramudya ada didalam" kemudian ia pergi setelah memberikan senyum ramahnya untukku.
Tanganku pun meraih pegangan pintu, namun kakiku tak mampu untuk ku
gerakan tatkala pintu dihadapanku terbuka dengan sempurna. Tubuhku
membatu ketika mataku mendapati apa yang ada dihadapanku. Silhuet sosok
nya begitu indah diterpa remang purnama, dipadu dengan remang cahaya
lilin yang memenuhi setiap sudut ruangan ini. Dapat kulihat senyum
terlukis diwajahnya. Ia pun bangkit dari duduknya mengulurkan satu dari
tangannya. Mengajakku untuk segera mendekati tubuhnya. Beku tubuh ku pun
perlahan mencair, dan kakiku pun melangkah menghampirinya. Seketika
rongga telingaku menangkap sebuah melodi, intro dari lagu yang sangat
kuhafal.
Heart beats fast
color and promises
how to be brave
how can i love with not affraid
to fall
Suara merdu milik Christina Perry mengalun indah. Mengiringi
langkahku untuk semakin mendekati sosoknya. Kini aku merasa seperti Bella Swan yang sedang berjalan menuju altar dimana Edward Cullen telah
menunggu.
Jarak kami hanya tinggal beberapa langkah. Semakin tegas rupa yang terbias oleh remang cahaya dihadapanku.
One step closer
i have died everyday
waiting for you
darlin dont be affraid
i have love you for a thousand year
i'll love you for a thousand more.
Aku meraih jemari tangan yang ia ulurkan. Menatap lekat setiap lekuk
wajahnya. Dialah Pram, kekasihku kini. Seorang yang telah menggu hatiku
bertahun lamanya. Seorang yang tak pernah sekalipun meninggalkan ku
dalam pilu. Seorang yang sungguh mencintaiku tulus meski tak pernah ada
balas dariku dulu. Yah... Itulah dia. Kini penantiannya tak menjadi
sia-sia, aku menjadi miliknya setelah seorang yang kucintai pergi
selamanya. Kini dia hadir, menjadi pengganti atas masa lalu yang tak kan
kembali.
Dan sekali lagi, ia melakukan hal yang membuat diriku semakin dalam
jatuh pada hatinya. Entah bagaimana ia melakukan semua ini. Seorang pria
menyiapkan candle light dinner yang begitu romantis untuk seorang pria
lagi. Entahlah. Aku tak mau tahu. Yang aku tahu, aku sangat mencintai Pram.
"Ada sebuah kejutan lagi yang aku persiapkan" ucapnya setelah aku
membenamkan tubuhku dalam peluknya. Lalu Pram mengajakku untuk naik ke
lantai dua ruangan ini. Mataku ditutup oleh kain terlebih dahalu olehnya.
Dan baru dibuka setelah kami tiba di lantai dua. Tak ada kata yang terucap
dari mulutnya, hanya sebuah senyum manis yang terlihat. Di ikuti dengan
tangannya yang menunjuk area lantai satu. Aku mengkuti arah
telunjuknya. Dan ASTAGA. Kini aku dibuat benar-benar tak bisa berkata.
Beratus lilin yang menerangi area lantai satu ternyata dirangkai sedemikian
rupa menjadi sebuah untaian kata. Lutut ku lemas menatap nya. Hampir
aku terjauh bila tak ada pembatas yang menjadi penahan tubuhku. Aku
berbalik kearah Pram yang berada disampingku. Kini ia tengah berlutut
dengan kotak beludru biru ditangannya. Isi kotak itu bercayaha diterpa
sinar sang purnama. Lagi, senyum itu terlukis diwajahnya. Hanya sebuah
kalimat yang mampu aku ucapkan.
"I DO"
END
Rabu, 18 Juli 2012
Minggu, 08 Juli 2012
BAGAS
BAGAS
“HAPPY BIRTHDAY, SWEETHEART!.” Bibir tipisnya berucap dengan kedua telapak tangan memangku birthday cake yang dibawanya. Kesadaranku belum pulih benar, karena ditarik paksa dari kerajaan mimpiku. Tepat pukul 12, Dira mengetuk pintu kostanku. Dira adalah kekasihku. Lelaki tampan yang telah mapan ini telah merenggut hatiku sejak setahun yang lalu. Dalam setengah kesadaranku dan remang pandanganku, aku masih tetap bisa melihat keindahan wajahnya. Bersinar dalam redupnya cahaya lilin diatas birthday cake ditangannya.
“Ntar juga kamu tahu. Sabar yah.” Tatapan Dira tak berubah, tetap lurus memandang jalan dan berkonsentrasi dengan kemudi dalam genggamannya. Melihat medan jalan, memang sudah seharusnya Dira fokus pada laju mobilnya. Dan salahku yang terus bertanya. Sebaiknya aku biarkan Dira, kupalingkan pandanganku, menatap indahnya panorama pegunungan. Empat jam waktu perjalanan telah kami tempuh. Dan kami telah terbebas dari hiruk pikuk perkotaan. Beban kehidupan yang senantiasa menggelayut terasa pudar ketika mataku menatap hijaunya pepohonan. Terasa segar ketika hidungku menghirup udara yang minim polusi.
Sedari tadi aku mengamati jalan yang kami lalui, jalan yang menanjak dengan tebing terjal di salah satu sisinya. Beberapa kali kami melewati pemukiman warga yang terpisah oleh hutan antara pemukiman satu dengan yang lainnya. Jujur aku belum pernah kesini. Dan akupun tak tahu nama dari daerah ini. Rasa penasaranku kumat lagi, aku berbalik hendak bertanya pada Dira, namun gerak tubuhku terhenti ketika Dira juga menghentikan laju mobilnya. Tepat di depan sebuah rumah.
“Udah nyampe. Turun yu.” Tanpa mendengar persetujuanku, Dira telah membuka pintu mobil dan mengeluarkan badannya. Dan akupun melakukan hal yang sama. Seketika dinginnya angin pegunungan memaksa masuk kedalam tubuhku, menerobos pertahanan dari jaket yang aku kenakan. Terik mentari tak terasa menyengat. Meski sekarang siang bolong, namun hanya hangat yang terasa. Kuedarkan pandanganku. Kuputar tubuhku. Menatap kesetiap pelosok dihadapanku. Indah. Hanya kata itulah yang terucap lirih dari bibirku. Guratan tinta lukisan Sang Pencipta.
Kini aku menatap bangunan dihadapanku. Sebuah rumah. Rumah panggung lebih tepatnya. Namun rumah ini terlihat lebih mewah dari rumah panggung yang biasanya terletak di pedesaan. Anyaman bambu yang diberi nama bilik itu terlihat masih baru. Kokoh menjadi dinding rumah. Atap gentingnya pun masih mengkilat diterpa sinar mentari.
“KLIK!”
Seseorang menjentikan jarinya tepat didepan hidungku. Mengacaukan analisaku yang berupa lamunan.
“Kok bengong sih? Ini kejutan yang aku maksud. Kamu suka ngga?” aku menoleh kearah suara itu berasal. Aku hanya tersenyum. Kuberikan senyum terbaik yang kumiliki, sebagai jawaban atas pertanyaannya. Menggantikan rasa bahagia dalam hatiku yang tak mampu kuungkap dalam deretan kata.
“Love you too, sweetheart!” ucapnya, seolah ia bisa membaca pikiranku. Aku mengikuti gerak langkah Dira yang kini berjalan didepanku. Menyusuri jalan menuju pintu rumah. Arah jalanku tegak lurus, namun tidak dengan arah pandanganku. Mataku terus menjelajah menikmati indahnya panorama disekelilingku. Tiba-tiba pandanganku terpaku, ketika melihat sosok yang sedang duduk tenang dikursi yang terletak di pekarangan rumah. Pekarangan itu terletak disisi samping rumah. Berupa hamparan rumput hijau dengan satu buah kursi panjang bercat putih di ujungnya. Sosok itu nampak dengan tenang memandang ke arah ladang sawah dan pedesaan dibawahnya. Rumah ini memang terletak dibagian atas, dan tepat bagian pinggir. Sehingga bagian belakang dan samping rumah ini adalah jurang.
BUGH!
Secangkir cappuccino instan kini dalam jemariku. Kulangkahkan kaki menuju kursi putih di pekarangan. Namun langkahku terhenti ketika aku melewati pintu rumah. Sosok itu kembali hadir, duduk tenang menatap purnama. Ini kali kedua aku melihatnya. Dan untuk kedua kalinya pula aku merasakan sesuatu dalam tubuhku. Sebuah rasa yang menarikku ingin terus menatapnya. Bahkan rasa itu semakin kuat kurasakan kini. Menarik kakiku agar melangkah menghampirinya. Dan rasa itu berhasil, membuatku tegak berdiri tepat disampingnya sekarang. Namun ia tak bergeming. Seolah tak menyadari kehadiranku. Bola matanya tetap menatap bulatnya purnama.
Dinginnya cappuccino dalam cangkir yang kugenggam menjadi pertanda lamanya kami terpaku dalam posisi seperti ini. Akhirnya dia menyerah, dia menoleh kearahku. Sempat aku terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba. Namun tatapannya mampu menenangkanku. Ekspresi wajahnya begitu datar, namun tatapannya begitu lembut dan tenang. Kuposisikan diriku duduk disampingnya, mengikuti arah pandangannya menatap sang purnama.
“Siapa namamu?”
“Apakah hadiahku cukup membuatmu bahagia?” sebuah pertanyaan terlontar dari bibir yang sebelumnya telah mencium mesra keningku.
“Apakah perlu aku menjawab pertanyaanmu?”
“Tentu”
“Tiada suatu apapun yang kau berikan mampu membuatku cukup bahagia. Namun cinta dan dirimu mampu membuatku merasakan lebih dari sekedar cukup kebahagiaan.” dan sekali lagi Dira mencium keningku.
Seperti biasa, tubuhnya terpaku. Pandangannya tertuju tak beralih. Aku mendekatinya dan duduk disampingnya. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Dia akan selalu diam seolah aku tak nampak dalam pandangannya.
Bagas. Satu-satunya kata yang pernah keluar dari mulutnya. Kata berupa nama yang diberikan padanya ketika ia terlahir di dunia. Nama yang masih melekat pada dirinya meski ia telah terlepas dari alam nyata. Dengan kemampuan yang Tuhan berikan padaku, seringkali aku dapat melihat sosok seperti Bagas. Sosok-sosok yang terkadang membuatku berteriak histeris. Atau terkadang sosok yang memaksa masuk kedalam tubuhku dan mengusir jiwaku. Sosok yang sangat aku hindari keberadaannya. Namun tidak dengan Bagas. Sosok ini sama sekali tidak membuatku takut. Teduh matanya, tenang raut wajahnya, membuatku selalu nyaman disampingnya. Dia adalah temanku menghabiskan malam.
Lama kami terdiam dalam pandangan masing-masing. Tidak, bukan kami, melainkan aku. Karena selama kami bersama tak pernah ia berucap, selain mengucap namanya tempo hari. Biasanya aku yang aktif berbicara, bercerita segala hal yang aku alami. Tak ada tanggapan darinya, selain sebuah senyuman indah dari bibirnya. Dan seingatku, dia juga hanya tiga kali melakukannya. Selebihnya ia hanya diam.
Kualihkan pandanganku, menatap rupa seindah purnama. Namun Bagas tertunduk, suatu hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dan… ia terisak.
“Hei..kamu kenapa?” tanyaku cemas. Cemas untuk diriku sendiri lebih tepatnya. Suasana disekeliling kami mulai terasa berbeda. Bulu kudukku terasa mengembang, dan ada sedikit rasa takut yang mulai menyerbu diriku. Bagas tetap terisak dalam tunduknya. Isakan yang tak menghasilkan butiran air dari matanya. Sosok seperti Bagas memang tak mampu untuk mengeluarkan air mata, hanya suara tangisan mereka yang tercipta.
Beberapa kali aku bertanya padanya. Namun ia tetap tak bergeming, hingga ku tak tahu harus berbuat apa lagi. Kini aku hanya diam memandangnya.
“Tulungan abdi (tolongin saya)” tiba-tiba bagas berucap ditengah isakannya. Aku tersentak. Desiran hebat menjalar disekujur tubuhku. Suaranya telah mengahantarkan rasa yang selama ini kuhindari. Rasa yang tak pernah aku temui sejak pertama aku melihatnya. Takut. Yah… kini aku ketakutan. Kini Bagas tengah menatapku. Mulutnya terus berucap. Melafalkan kata yang serupa, tak berganti. “tulungan abdi…tulungan abdi”. Aku tak mampu lagi berkata. Tubuhku membatu. Menatap wajah sosok dihadapanku. Kulit wajahnya tampak lebih pucat, dan matanya… seperti mengisyaratkan pedih yang dialaminya. Matanya telah benar-benar menghipnotis diriku. Tak sedikitpun anggota tubuh mampu aku gerakan, selain kelopak pada kedua mataku.
Dan kini, jantungku dibuat berdetak berkali lipat tatkala aku melihat sesuatu keluar dari lehernya.
“I… itu..darah!!!” batinku histeris.
Yah… itu darah. Cairan segar berwarna merah itu mengalir dari lingkar leher Bagas. Ingin rasanya aku berteriak, namun tak sedikitpun suara keluar dari mulutku. Berbagai ayat suci yang kuhafal kulafalkan dalam hati. Berharap Tuhan bermurah hati melepaskanku dari keadaan ini. Namun nihil, sosok Bagas kini terlihat begitu menyeramkan, raut wajahnya kini sangat tak bersahabat. Ditambah dengan lirih ucapannya yang tak henti-hentinya berucap kalimat serupa. Aku berharap tubuhku pingsan detik ini juga.
Dan tiba-tiba… Bagas mencengkram erat kedua pergelangan tanganku. Tangannya begitu dingin kurasakan, sedingin tatapan matanya. Tak mampu lagi aku menahan rasa takut dalam diriku. Aku menutup kedua mataku. Berharap Bagas akan lenyap ketika mata ini terbuka. Lama mata ini kupejamkan, hingga akhirnya tak terasa lagi cengkraman Bagas di tanganku. Lirih suaranya pun kini tak terdengar lagi. ‘apakah Bagas telah pergi?’ batinku terus bertanya, hingga akhirnya aku putuskan untuk membuka mataku. Berharap Bagas telah pergi dan semua ini telah berakhir. ‘Namun apa ini? Aku ada dimana?’ batinku kembali bertanya. Mataku telah terbuka, namun aku tidak berada ditempat semula.Kini aku berada di sebuah rumah. Rumah panggung yang sangat sederhana. Dihadapanku ada sebuah pintu tak berdaun. Kakiku melangkah sangat hati-hati. Melewati pintu dihadapanku. Memasuki ruangan yang ternyata adalah sebuah dapur. Kudapati dua sosok terduduk memebelakangi tubuhku. Dua sosok laki-laki yang sedang asik bercengkrama seraya menikmati hangatnya bara api didalam hawu(tungku untuk memasak). Ingin segera aku bertanya pada mereka, mencari penjelasan atas apa yang terjadi. Namun belum sempat mulutku berucap, salah satu dari mereka berbalik hendak mengambil sesuatu. Dan betapa terkejutnya aku ketika remang lampu cempor(lampu minyak) menegaskan rupa sang pemilik raga dihadapanku. “I… itu Bagas!!!!” ucapku tanpa suara. Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi?. Mimpi atau ilusikah semua ini. Tuhan tolong kembalikan aku kedalam sadarku. Kembali aku memohon pertolongan pada Sang Esa. Namun dua sosok dihadapanku tetap tak beranjak dari pandanganku. Kuedarkan pandanganku, mengamati rupa sekelilingku. Rumah ini begitu sederhana. Lantai dapur yang masih berupa tanah, dinding bilik yang telah lapuk, hawu, lampu cempor, dan barang-barang yang aku yakini sudah tak dipakai di zaman sekarang. Apakah Bagas tengah memberikan penglihatan padaku. Penglihatan akan dirinya di masa lalu. Seketika pertanyaan itu muncul dibenakku. Namun bila ia benar tengah memberikan penglihatan padaku, tujuannya apa, apa ia ingin menyampaikan suatu pesan. Berbagai pertanyaan berkeliling di kepalaku.
Kutatap lekat wajah mereka berdua. Bagas begitu tampan. Rupa khas pribumi yang begitu menawan. Binar matanya memancarkan kebahagiaan yang teramat sangat. Sorot mata yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Dan disebelahnya, pria jangkung dengan rambut agak kecoklatan. Kulitnya putih dengan bintik merah yang merona di kedua pipinya. Siapa pria ini? Dan apa hubungannya dengan bagas? Dari rupanya aku dapat menebak kalau ia bukan asli pribumi seperti Bagas. Seolah menjawab pertanyaan dalam kepalaku, pria jangkung itu mengecup lembut kening Bagas, disusul dengan sandaran kepala Bagas dibahu si pria jangkung. Mereka terlihat begitu bahagia. Pertanyaan tentang siapa pria jangkung ini terjawab sudah. Ternyata Bagas memiliki cinta yang unik sepertiku.
Aku terpaku, menikmati romantisme masa lalu Bagas. Hingga tiba-tiba terdengar suara teriakan menggema diluar rumah. Bagas dan pria itu bangkit dari duduk. Mereka terlihat begitu cemas. Teriakan itu terus memekik. Memanggil nama Bagas dan pria jangkung yang selanjutnya kuketahui bernama James. Dibarengi dengan sumpah serapah dan cacian akan cinta unik mereka. Apa yang terjadi lagi kini. Aku mulai cemas. Teriakan itu terus menggema. Memanggil mereka untuk segera keluar rumah. Bagas dan James terlihat semakin ketakutan. Begitu pula diriku.
PRRAAAANNNGGG
Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca di tengah rumah. Bagas dan James segera berlari. Aku menyusul mereka. Ternyata kaca jendela pecah, terkena lemparan batu. Mereka semakin cemas. Bagas segera berlari masuk kesalah satu kamar lainnya dirumah ini. James hanya terpaku dalam ketakutannya.
BBRRRUUUUGGG
Pintu rumah didobrak paksa. Terlihat beberapa lelaki muda maupun yang telah berumur merangsak masuk. James segera berlari menyusul Bagas. Diikuti oleh pria-pria yang tadi merangsak masuk. Bagas dan James keluar diseret oleh mereka. Warga yang lain kini telah ikut memasuki rumah. Disudutkannya dua pria malang itu ditengah rumah. Cacian semakin menggema disetiap sudut rumah. Beberepa orang malah meludahi Bagas dan James. Dan beberepa orang lainnya melayangkan beberapa pukulan kebadan mereka. Mereka disiksa karena cinta unik yang mereka miliki. Cinta yang dianggap aib dan membawa petaka pada desa. Tanpa belas kasihan mereka terus menyiksa Bagas dan James. Lebam menghinggapi tubuh mereka. Darah mengalir di wajah mereka. Ingin sekali aku menolong Bagas dan James. Namun aku tak berdaya. Hanya mampu melihat tanpa bisa berbuat. Hatiku menangis menyaksikan kebiadaban dihadapanku. Dan tiba-tiba seseorang merangsak masuk kerumunan manusia biadab dihadapanku. Golok bersarang digenggaman tangannya. Dan… TIDAAAAKKK!!!!
Jadwal kepulangan aku dan Dira diundur setelah apa yang terjadi padaku dua malam lalu. Dira menemukanku terbaring di kursi pekarangan pada pagi harinya. Kursi yang segera dibongkar setelah aku mendapatkan suatu kenyataan. Kenyataan bahwa Bagas dikubur secara tidak layak tepat dibawah kursi itu. Kini Bagas telah tenang. Ia telah mendapatkan tempat peristirahatan yang seharusnya. Aku dan Dira bersama warga lainnya menguburkan tulang-belulang sisa jasad Bagas di pemakaman desa. Dan kami pun telah melakukan tahlilan untuknya tadi malam.
“Udah siap?” aku tersentak dari lamunanku. tanpa kusadari Dira telah duduk disampingku.
“Udah” senyum indah mengembang dari bibirku.
Kami pun segera bersiap untuk kembali pada rutinitas kami. Setelah semua persiapan selesai kami segera berangkat pulang. Dira kini tenang dalam kemudinya, begitupun aku. Pengalaman yang aku dapatkan disini tak mungkin dapat aku lupakan. Hatiku tersenyum bahagia. Kulirik kaca spion disampingku, dapat kulihat Bagas juga tersenyum padaku.
END
“HAPPY BIRTHDAY, SWEETHEART!.” Bibir tipisnya berucap dengan kedua telapak tangan memangku birthday cake yang dibawanya. Kesadaranku belum pulih benar, karena ditarik paksa dari kerajaan mimpiku. Tepat pukul 12, Dira mengetuk pintu kostanku. Dira adalah kekasihku. Lelaki tampan yang telah mapan ini telah merenggut hatiku sejak setahun yang lalu. Dalam setengah kesadaranku dan remang pandanganku, aku masih tetap bisa melihat keindahan wajahnya. Bersinar dalam redupnya cahaya lilin diatas birthday cake ditangannya.
“Kok malah bengong sih? Tiup dong lilinnya, keburu abis ntar.” Aku
tersadar dari lamunanku, dan segera meniup lilin berbentuk angka 2 dan 6
itu. Menyembulkan asap harapan yang kan terbawa oleh angin hingga
terbawa ke pangkuan Sang Pengabul Harapan. Dira mencium keningku, dan
mengucap do’a untuk yang terbaik dalam hidupku. Amin.
“Di, kita mau kemana sih?”“Ntar juga kamu tahu. Sabar yah.” Tatapan Dira tak berubah, tetap lurus memandang jalan dan berkonsentrasi dengan kemudi dalam genggamannya. Melihat medan jalan, memang sudah seharusnya Dira fokus pada laju mobilnya. Dan salahku yang terus bertanya. Sebaiknya aku biarkan Dira, kupalingkan pandanganku, menatap indahnya panorama pegunungan. Empat jam waktu perjalanan telah kami tempuh. Dan kami telah terbebas dari hiruk pikuk perkotaan. Beban kehidupan yang senantiasa menggelayut terasa pudar ketika mataku menatap hijaunya pepohonan. Terasa segar ketika hidungku menghirup udara yang minim polusi.
Sedari tadi aku mengamati jalan yang kami lalui, jalan yang menanjak dengan tebing terjal di salah satu sisinya. Beberapa kali kami melewati pemukiman warga yang terpisah oleh hutan antara pemukiman satu dengan yang lainnya. Jujur aku belum pernah kesini. Dan akupun tak tahu nama dari daerah ini. Rasa penasaranku kumat lagi, aku berbalik hendak bertanya pada Dira, namun gerak tubuhku terhenti ketika Dira juga menghentikan laju mobilnya. Tepat di depan sebuah rumah.
“Udah nyampe. Turun yu.” Tanpa mendengar persetujuanku, Dira telah membuka pintu mobil dan mengeluarkan badannya. Dan akupun melakukan hal yang sama. Seketika dinginnya angin pegunungan memaksa masuk kedalam tubuhku, menerobos pertahanan dari jaket yang aku kenakan. Terik mentari tak terasa menyengat. Meski sekarang siang bolong, namun hanya hangat yang terasa. Kuedarkan pandanganku. Kuputar tubuhku. Menatap kesetiap pelosok dihadapanku. Indah. Hanya kata itulah yang terucap lirih dari bibirku. Guratan tinta lukisan Sang Pencipta.
Kini aku menatap bangunan dihadapanku. Sebuah rumah. Rumah panggung lebih tepatnya. Namun rumah ini terlihat lebih mewah dari rumah panggung yang biasanya terletak di pedesaan. Anyaman bambu yang diberi nama bilik itu terlihat masih baru. Kokoh menjadi dinding rumah. Atap gentingnya pun masih mengkilat diterpa sinar mentari.
“KLIK!”
Seseorang menjentikan jarinya tepat didepan hidungku. Mengacaukan analisaku yang berupa lamunan.
“Kok bengong sih? Ini kejutan yang aku maksud. Kamu suka ngga?” aku menoleh kearah suara itu berasal. Aku hanya tersenyum. Kuberikan senyum terbaik yang kumiliki, sebagai jawaban atas pertanyaannya. Menggantikan rasa bahagia dalam hatiku yang tak mampu kuungkap dalam deretan kata.
“Love you too, sweetheart!” ucapnya, seolah ia bisa membaca pikiranku. Aku mengikuti gerak langkah Dira yang kini berjalan didepanku. Menyusuri jalan menuju pintu rumah. Arah jalanku tegak lurus, namun tidak dengan arah pandanganku. Mataku terus menjelajah menikmati indahnya panorama disekelilingku. Tiba-tiba pandanganku terpaku, ketika melihat sosok yang sedang duduk tenang dikursi yang terletak di pekarangan rumah. Pekarangan itu terletak disisi samping rumah. Berupa hamparan rumput hijau dengan satu buah kursi panjang bercat putih di ujungnya. Sosok itu nampak dengan tenang memandang ke arah ladang sawah dan pedesaan dibawahnya. Rumah ini memang terletak dibagian atas, dan tepat bagian pinggir. Sehingga bagian belakang dan samping rumah ini adalah jurang.
BUGH!
Aku terjatuh, karena asik memandangi sosok itu, aku jadi tidak
memperhatikan jalan. Alhasil kakiku tersandung batu. Ternyata Dira telah
terlebih dahulu memasuki rumah. Setelah berhasil berdiri aku kembali
menoleh kearah sosok tadi berada, namun nihil, sosok itu telah
menghilang. Kulebarkan arah pandanganku, namun ia telah benar-benar
menghilang.
***
Kulihat jam yang terpasang tepat diatas jendela. Sudah malam
ternyata. Aku menggeliat, meregangkan otot-otot dalam tubuhku.
Kupandangi sosok yang kini tengah tertidur disampingku. Dira. Kekasihku.
Nampak begitu damai menjelajahi alam bawah sadarnya. Nampaknya ia
kelelahan dengan perjalanan kami tadi, ditambah dengan ‘aksi liar’ kami
sore harinya. Betapa bahagianya diriku saat ini. Hidupku begitu sempurna
diatas ketidak sempurnaanku. Aku beranjak dari tempat tidur. Berjalan
menuju jendela. Kusibakan tirai berwarna marun penutup kaca. Lagi,
mataku dimanjakan oleh pemandangan dihadapanku. Bulan penuh menghiasi
gelapnya langit malam. Remang sinarnya menerpa hamparan rumput hijau
pekarangan. Dapat kurasakan ketenangan merasuk dalam kalbuku. Kututup
kembali tirai marun itu, aku ingin keluar, menikmati terpaan sinar
rembulan.***
Secangkir cappuccino instan kini dalam jemariku. Kulangkahkan kaki menuju kursi putih di pekarangan. Namun langkahku terhenti ketika aku melewati pintu rumah. Sosok itu kembali hadir, duduk tenang menatap purnama. Ini kali kedua aku melihatnya. Dan untuk kedua kalinya pula aku merasakan sesuatu dalam tubuhku. Sebuah rasa yang menarikku ingin terus menatapnya. Bahkan rasa itu semakin kuat kurasakan kini. Menarik kakiku agar melangkah menghampirinya. Dan rasa itu berhasil, membuatku tegak berdiri tepat disampingnya sekarang. Namun ia tak bergeming. Seolah tak menyadari kehadiranku. Bola matanya tetap menatap bulatnya purnama.
Dinginnya cappuccino dalam cangkir yang kugenggam menjadi pertanda lamanya kami terpaku dalam posisi seperti ini. Akhirnya dia menyerah, dia menoleh kearahku. Sempat aku terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba. Namun tatapannya mampu menenangkanku. Ekspresi wajahnya begitu datar, namun tatapannya begitu lembut dan tenang. Kuposisikan diriku duduk disampingnya, mengikuti arah pandangannya menatap sang purnama.
“Siapa namamu?”
“Bagas.” Ia menjawab tanpa menoleh kearahku. “Namaku Wisnu.” Dan kami kembali terdiam, menikmati indahnya atap dunia.
***
Satu minggu waktu liburan aku dan Dira telah berakhir. Dan besok kami
akan kembali pada rutinitas. Senja terakhir kami disini diwarnai rintik
pembawa pelangi bila diterpa mentari. Kueratkan pelukanku. Kurapatkan
tubuhku. Menikmati kehangatan dan kenyamanan dalam tubuhnya.***
“Apakah hadiahku cukup membuatmu bahagia?” sebuah pertanyaan terlontar dari bibir yang sebelumnya telah mencium mesra keningku.
“Apakah perlu aku menjawab pertanyaanmu?”
“Tentu”
“Tiada suatu apapun yang kau berikan mampu membuatku cukup bahagia. Namun cinta dan dirimu mampu membuatku merasakan lebih dari sekedar cukup kebahagiaan.” dan sekali lagi Dira mencium keningku.
Mentari senja kembali bersinar. Membiaskan setiap gemercik rintik.
Menggaris pola warna diangkasa. Dan menghapus kelabu dilangit senja.
***
Kembali aku menatap kursi putih itu, beserta sosoknya. Ini adalah
malam terakhir aku bisa menatap teduh matanya. Tak terasa satu minggu
telah menjadi waktu perkenalan kami. Dan selama satu minggu ini ia
selalu menemaniku. Menatap indahnya ladang bintang.***
Seperti biasa, tubuhnya terpaku. Pandangannya tertuju tak beralih. Aku mendekatinya dan duduk disampingnya. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Dia akan selalu diam seolah aku tak nampak dalam pandangannya.
Bagas. Satu-satunya kata yang pernah keluar dari mulutnya. Kata berupa nama yang diberikan padanya ketika ia terlahir di dunia. Nama yang masih melekat pada dirinya meski ia telah terlepas dari alam nyata. Dengan kemampuan yang Tuhan berikan padaku, seringkali aku dapat melihat sosok seperti Bagas. Sosok-sosok yang terkadang membuatku berteriak histeris. Atau terkadang sosok yang memaksa masuk kedalam tubuhku dan mengusir jiwaku. Sosok yang sangat aku hindari keberadaannya. Namun tidak dengan Bagas. Sosok ini sama sekali tidak membuatku takut. Teduh matanya, tenang raut wajahnya, membuatku selalu nyaman disampingnya. Dia adalah temanku menghabiskan malam.
Lama kami terdiam dalam pandangan masing-masing. Tidak, bukan kami, melainkan aku. Karena selama kami bersama tak pernah ia berucap, selain mengucap namanya tempo hari. Biasanya aku yang aktif berbicara, bercerita segala hal yang aku alami. Tak ada tanggapan darinya, selain sebuah senyuman indah dari bibirnya. Dan seingatku, dia juga hanya tiga kali melakukannya. Selebihnya ia hanya diam.
Kualihkan pandanganku, menatap rupa seindah purnama. Namun Bagas tertunduk, suatu hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dan… ia terisak.
“Hei..kamu kenapa?” tanyaku cemas. Cemas untuk diriku sendiri lebih tepatnya. Suasana disekeliling kami mulai terasa berbeda. Bulu kudukku terasa mengembang, dan ada sedikit rasa takut yang mulai menyerbu diriku. Bagas tetap terisak dalam tunduknya. Isakan yang tak menghasilkan butiran air dari matanya. Sosok seperti Bagas memang tak mampu untuk mengeluarkan air mata, hanya suara tangisan mereka yang tercipta.
Beberapa kali aku bertanya padanya. Namun ia tetap tak bergeming, hingga ku tak tahu harus berbuat apa lagi. Kini aku hanya diam memandangnya.
“Tulungan abdi (tolongin saya)” tiba-tiba bagas berucap ditengah isakannya. Aku tersentak. Desiran hebat menjalar disekujur tubuhku. Suaranya telah mengahantarkan rasa yang selama ini kuhindari. Rasa yang tak pernah aku temui sejak pertama aku melihatnya. Takut. Yah… kini aku ketakutan. Kini Bagas tengah menatapku. Mulutnya terus berucap. Melafalkan kata yang serupa, tak berganti. “tulungan abdi…tulungan abdi”. Aku tak mampu lagi berkata. Tubuhku membatu. Menatap wajah sosok dihadapanku. Kulit wajahnya tampak lebih pucat, dan matanya… seperti mengisyaratkan pedih yang dialaminya. Matanya telah benar-benar menghipnotis diriku. Tak sedikitpun anggota tubuh mampu aku gerakan, selain kelopak pada kedua mataku.
Dan kini, jantungku dibuat berdetak berkali lipat tatkala aku melihat sesuatu keluar dari lehernya.
“I… itu..darah!!!” batinku histeris.
Yah… itu darah. Cairan segar berwarna merah itu mengalir dari lingkar leher Bagas. Ingin rasanya aku berteriak, namun tak sedikitpun suara keluar dari mulutku. Berbagai ayat suci yang kuhafal kulafalkan dalam hati. Berharap Tuhan bermurah hati melepaskanku dari keadaan ini. Namun nihil, sosok Bagas kini terlihat begitu menyeramkan, raut wajahnya kini sangat tak bersahabat. Ditambah dengan lirih ucapannya yang tak henti-hentinya berucap kalimat serupa. Aku berharap tubuhku pingsan detik ini juga.
Dan tiba-tiba… Bagas mencengkram erat kedua pergelangan tanganku. Tangannya begitu dingin kurasakan, sedingin tatapan matanya. Tak mampu lagi aku menahan rasa takut dalam diriku. Aku menutup kedua mataku. Berharap Bagas akan lenyap ketika mata ini terbuka. Lama mata ini kupejamkan, hingga akhirnya tak terasa lagi cengkraman Bagas di tanganku. Lirih suaranya pun kini tak terdengar lagi. ‘apakah Bagas telah pergi?’ batinku terus bertanya, hingga akhirnya aku putuskan untuk membuka mataku. Berharap Bagas telah pergi dan semua ini telah berakhir. ‘Namun apa ini? Aku ada dimana?’ batinku kembali bertanya. Mataku telah terbuka, namun aku tidak berada ditempat semula.Kini aku berada di sebuah rumah. Rumah panggung yang sangat sederhana. Dihadapanku ada sebuah pintu tak berdaun. Kakiku melangkah sangat hati-hati. Melewati pintu dihadapanku. Memasuki ruangan yang ternyata adalah sebuah dapur. Kudapati dua sosok terduduk memebelakangi tubuhku. Dua sosok laki-laki yang sedang asik bercengkrama seraya menikmati hangatnya bara api didalam hawu(tungku untuk memasak). Ingin segera aku bertanya pada mereka, mencari penjelasan atas apa yang terjadi. Namun belum sempat mulutku berucap, salah satu dari mereka berbalik hendak mengambil sesuatu. Dan betapa terkejutnya aku ketika remang lampu cempor(lampu minyak) menegaskan rupa sang pemilik raga dihadapanku. “I… itu Bagas!!!!” ucapku tanpa suara. Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi?. Mimpi atau ilusikah semua ini. Tuhan tolong kembalikan aku kedalam sadarku. Kembali aku memohon pertolongan pada Sang Esa. Namun dua sosok dihadapanku tetap tak beranjak dari pandanganku. Kuedarkan pandanganku, mengamati rupa sekelilingku. Rumah ini begitu sederhana. Lantai dapur yang masih berupa tanah, dinding bilik yang telah lapuk, hawu, lampu cempor, dan barang-barang yang aku yakini sudah tak dipakai di zaman sekarang. Apakah Bagas tengah memberikan penglihatan padaku. Penglihatan akan dirinya di masa lalu. Seketika pertanyaan itu muncul dibenakku. Namun bila ia benar tengah memberikan penglihatan padaku, tujuannya apa, apa ia ingin menyampaikan suatu pesan. Berbagai pertanyaan berkeliling di kepalaku.
Kutatap lekat wajah mereka berdua. Bagas begitu tampan. Rupa khas pribumi yang begitu menawan. Binar matanya memancarkan kebahagiaan yang teramat sangat. Sorot mata yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Dan disebelahnya, pria jangkung dengan rambut agak kecoklatan. Kulitnya putih dengan bintik merah yang merona di kedua pipinya. Siapa pria ini? Dan apa hubungannya dengan bagas? Dari rupanya aku dapat menebak kalau ia bukan asli pribumi seperti Bagas. Seolah menjawab pertanyaan dalam kepalaku, pria jangkung itu mengecup lembut kening Bagas, disusul dengan sandaran kepala Bagas dibahu si pria jangkung. Mereka terlihat begitu bahagia. Pertanyaan tentang siapa pria jangkung ini terjawab sudah. Ternyata Bagas memiliki cinta yang unik sepertiku.
Aku terpaku, menikmati romantisme masa lalu Bagas. Hingga tiba-tiba terdengar suara teriakan menggema diluar rumah. Bagas dan pria itu bangkit dari duduk. Mereka terlihat begitu cemas. Teriakan itu terus memekik. Memanggil nama Bagas dan pria jangkung yang selanjutnya kuketahui bernama James. Dibarengi dengan sumpah serapah dan cacian akan cinta unik mereka. Apa yang terjadi lagi kini. Aku mulai cemas. Teriakan itu terus menggema. Memanggil mereka untuk segera keluar rumah. Bagas dan James terlihat semakin ketakutan. Begitu pula diriku.
PRRAAAANNNGGG
Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca di tengah rumah. Bagas dan James segera berlari. Aku menyusul mereka. Ternyata kaca jendela pecah, terkena lemparan batu. Mereka semakin cemas. Bagas segera berlari masuk kesalah satu kamar lainnya dirumah ini. James hanya terpaku dalam ketakutannya.
BBRRRUUUUGGG
Pintu rumah didobrak paksa. Terlihat beberapa lelaki muda maupun yang telah berumur merangsak masuk. James segera berlari menyusul Bagas. Diikuti oleh pria-pria yang tadi merangsak masuk. Bagas dan James keluar diseret oleh mereka. Warga yang lain kini telah ikut memasuki rumah. Disudutkannya dua pria malang itu ditengah rumah. Cacian semakin menggema disetiap sudut rumah. Beberepa orang malah meludahi Bagas dan James. Dan beberepa orang lainnya melayangkan beberapa pukulan kebadan mereka. Mereka disiksa karena cinta unik yang mereka miliki. Cinta yang dianggap aib dan membawa petaka pada desa. Tanpa belas kasihan mereka terus menyiksa Bagas dan James. Lebam menghinggapi tubuh mereka. Darah mengalir di wajah mereka. Ingin sekali aku menolong Bagas dan James. Namun aku tak berdaya. Hanya mampu melihat tanpa bisa berbuat. Hatiku menangis menyaksikan kebiadaban dihadapanku. Dan tiba-tiba seseorang merangsak masuk kerumunan manusia biadab dihadapanku. Golok bersarang digenggaman tangannya. Dan… TIDAAAAKKK!!!!
Benda bundar itu menggelinding kearahku, dan berhenti tertahan oleh
kakiku. I… itu…itu kepala Bagas. ARRRRGGGGHHH!!! Aku histeris, tubuhku
lemas. Nafasku tersenggal. Aku melihat James menangis dalam
pesakitannya. Lalu ia dibawa oleh warga entah kemana. Dan jasad Bagas
dibawa oleh warga yang lain. Dikuburkannya jasad Bagas di sebuah lahan
yang tak terawat.
***Jadwal kepulangan aku dan Dira diundur setelah apa yang terjadi padaku dua malam lalu. Dira menemukanku terbaring di kursi pekarangan pada pagi harinya. Kursi yang segera dibongkar setelah aku mendapatkan suatu kenyataan. Kenyataan bahwa Bagas dikubur secara tidak layak tepat dibawah kursi itu. Kini Bagas telah tenang. Ia telah mendapatkan tempat peristirahatan yang seharusnya. Aku dan Dira bersama warga lainnya menguburkan tulang-belulang sisa jasad Bagas di pemakaman desa. Dan kami pun telah melakukan tahlilan untuknya tadi malam.
“Udah siap?” aku tersentak dari lamunanku. tanpa kusadari Dira telah duduk disampingku.
“Udah” senyum indah mengembang dari bibirku.
Kami pun segera bersiap untuk kembali pada rutinitas kami. Setelah semua persiapan selesai kami segera berangkat pulang. Dira kini tenang dalam kemudinya, begitupun aku. Pengalaman yang aku dapatkan disini tak mungkin dapat aku lupakan. Hatiku tersenyum bahagia. Kulirik kaca spion disampingku, dapat kulihat Bagas juga tersenyum padaku.
END
PRAY
PRAY
“ALLOHUAKBAR…ALLOHUAKBAR….ALLOHUAKBAR…ALLOHUAKBAR WALILLAILLHAM”
Gema takbir membahana. Mengisi langit di gelap malam. Bedug berdentum seraya detak jantung.
Gegap gempita membanjiri seisikota. Inilah malam kemenangan, kemenangan untuk seluruh umat
muslim di pelosok dunia. Kemenangan atas tertahannya nafsu. Kemenangan atas kendali dalam diri.
Teramat jelas alunan takbir itu terdengar. Terdengar oleh sepasang daun telinga. Milik seorang pria
yang telah berada di usia senja. Meski usia telah mengikis kemampuan ‘indera’nya perlahan, namun
seruan akan nama Tuhan itu tak pernah menjadi samar sedikitpun melewati genderang sang ‘indera’.
Langit gelap berada dalam tatapan matanya. Tubuhnya terpaku dalam diam, menghayati alunan
memuji Sang Pencipta. Getar bibirnya melafalkan ayat-ayat suci Sang Khalik. Dalam syair indah ayat-
ayat suci itu terselip sebua do’a, do’a yang mulai diucapkannya bertahun-tahun yang lalu. Dimana
tubuh renta itu masih berdiri kokoh, jauh hari sebelum usia perlahan menyedot isi dibawah kulit
kencang miliknya. Kulit yang kini telah mengkerut karena daging yang menariknya kini telah tiada.
Do’a yang selalu ia ucapkan setelah kenyataan yang sangat pahit menghampiri hidupnya. Kenyataan
yang telah meleburkan segala asa dan harapan yang telah ia bangun. Kenyataan bahwa anak laki-laki
satu-satunya yang ia miliki adalah seorang penyuka sesama jenis. Suatu kenyataan yang sangat tidak
bisa diterima oleh pikiran dan hatinya. Kenyataan yang telah berlalu sepuluh tahun lamanya.
Ketika pria itu hendak pulang kerumah setelah keringatnya diperas seharian oleh pekerjaannya. Tak
ada yang pria itu inginkan selain mengistirahatkan badannya. Namun nampaknya keinginan pria itu
menghilang ketika membuka pintu rumahnya. Retina matanya terasa bagai terkena lelehan timah
panas ketika sepasang bola mata miliknya mendapati sesuatu yang janggal dalam pandangannya.
Matanya menangkap kegiatan anak laki-lakinya yang tengah berciuman. Takkanmenjadi sebuah
persoalan yang besar bila yang dicium sang anak adalah seorang perempuan . Namun pemilik bibir
yang ia lihat adalah seorang yang berjenis kelamin sama dengan anaknya . Urat dalam tubuhnya
seketika mengencang, darahnya terasa mendidih dan mengalir deras menuju puncak kepalanya.
Tak dipungkiri lagi amarahnya menjadi. Anak yang ia banggakan telah berbuat nista dihadapan
matanya. Sumpah serapah pun tak terbendung lagi oleh lidahnya. Tendangan dan pukulan melayang
dari kaki dan tangannya. Tubuh anak yang baru duduk di kelas 2 SMA itu perlahan membiru.
Memberi tanda dari setiap hantaman yang diberikan sang ayah. Tak hentinya bibir yang disudutnya
telah meneteskan darah itu memohon ampun. Namun setan telah menutup rapat daun telinga
pria itu. Tak dihiraukannya rintihan sang anak yang mengaduh atas sakit dibadannya. Amarahnya
telah menyingkirkan akal sehat dalam pikirannya. Sang anak pun diusir. ‘Ditendangnya’ sang
anak dari kehidupannya. Diputuskannya ikatan darah yang mengikatnya, meski sejatinya ikatan
itu takkan pernah putus oleh suatu hal apapun. Namun setan telah merasuki tubuhnya. Tak
diperdulikannya nasib sang anak kelak, yang pikirkan hanya rasa malu memiliki seorang anak yang
tak ‘wajar’. Egonya menutup pandangannya akan sesal di kemudian hari. Rasa sesal yang semakin
akut ia rasakan di usianya kini. Sesal yang menjalar dalam nadinya dan mengalir bersama darahnya.
Sesal yang menggiring do’a terucap dari bibirnya. Do’a yang mengharapkan kepulangan anak semata
wayangnya.
Sepuluh tahun sudah do’a itu diucapkan dalam setiap sujudnya kepada Sang Pencipta. Memohon
belas kasih dari-Nya. Tak ada yang lebih ia harapkan dari kepulangan sang anak, menatap wajah
darah dagingnya sebelum matanya tertutup untuk selamanya. Namun waktu nampaknya telah
mengikis harapannya, meski takkanmampu melenyapkannya. Pasrah. Sebuah kata yang enggan ia
ucapkan, apalagi untuk dilakukan. Namun waktu terus berputar. Mengurangi masanya di dunia,
mengikis jatah udara yang dihirupnya. Dan tak luput melunturkan tekad yang membulat dalam
benaknya. ‘Pasrah’ pun perlahan berhasil menelusup dalam relung batinnya.
Diangkatnya badan renta miliknya, dilangkahkan kakinya. Perlahan sepasang kaki tua yang sudah tak
mampu berlari itu mendekati bibir jendela. Hembusan angin malam perlahan membelai lembut kulit
keriput di badannya. Perlahan tetesan air dari mata rabunnya membasahi pipinya. Meratapi kejadian
yang telah berlalu. Ratapan yang selalu ia rasakan. Ratapan yang terasa bagai tusukan beribu pedang
dalam ulu hatinya. Namun tak sedikitpun mampu ia lenyapkan. Apakah rasa sakit ini sama seperti
yang anaknya rasakan ketika ia mengusirnya dulu. Pertanyaan itulah yang senantiasa melancarkan
serangan pedang dalam hatinya.
…………………………
Genderang kemenangan telah ditabuh. Beribu kata maaf telah diucapkan. Lenyaplah dosa dari diri
yang menunaikan ibadahnya sepenuh hati.
Berbagai pasang kaki telah melangkah datang dan pergi melewati pintu yang ia buka lebar, selebar
pintu maaf yang ia buka dihatinya. Hidangan khas yang mengugah selera telah tersaji lengkap di
tempatnya. Namun tangannya enggan untuk menyentuhnya. Setelah silaturahmi dengan tetangga
yang mendatangi rumahnya, ia hanya terdiam. Tubuh tuanya kembali terpaku. Memulai rutinitas
tahunan miliknya . menatap penuh harap ke arah pintu yang terbuka. Menanti sepasang kaki masuk
melewatinya. Menanti tubuh yang ia rindukan memeluknya. Yah, kembali pria renta ini menanti anak
tercintanya pulang di hari yang fitri ini. Berharap keajaiban menghampirinya kali ini. Keajaiban yang
memang selalu ia harapkan di tiap hari dalam hidupnya.
Tak terasa mentari pagi telah merangkak ke tengah langit. Menguatkan pancaran sinar dalam
dirinya. Namun kuatnya pria ini tak sekuat sang surya. Kekuatannya kembali pudar ketika ia tersadar
akan kenyataan. Kenyataan bahwa anaknya takkan pernah kembali. Kenyataan bahwa ia sendiri
tak tau bahwa anaknya masih bernafas atau tidak. Kenyataan yang selalu ia pungkiri. Ia beranjak
meninggalkan penantiannya. Mengubur segala harapannya. Dan merelakan segala yang terjadi
dalam hidupnya. Namun Tuhan berkata lain. Do’a yang selalu pria itu ucapkan akhirnya menjadi
kenyataan. Sang anak pun akhirnya pulang. Sepasang kaki yang sangat dinanti itu akhirnya melangkah masuk ke tempat dimana seharusnya ia berada. Seiring waktu, tubuh kecil itu berubah tegap. Sepuluh tahun memang bukan waktu yang sebentar. Waktu yang lebih dari cukup untuk merubah penampilan, bahkan jati diri seseorang. Pria tua itu awalnya tak menyadari siapa yang berdiri di ambang pintu rumahnya. Menatap seorang anak muda yang begitu tampan dan bertubuh tegap. Berpenampilan sangat menarik dengan balutan kemeja dan jeans dari merek ternama. Namun dia adalah seorang ayah. Meski lama tak berjumpa. Meski wajah telah berubah rupa. Hatinya tak mungkin salah menyangka. Dia tau, anak muda itu adalah anaknya. Anak semata wayang yang telah diusir dari kehidupannya. Ingin rasanya dia melangkah mendekati tubuh sang anak, namun kakinya seolah membeku, merekat kuat pada ubin tempatnya berada. Hanya tetesan kecil yang mulai mencair dari kedua bola matanya. Lama mereka mematung dalam keheningan. Namun rasa rindu telah membuncah. Tak mampu lagi dikurung dalam hati . Sang anak pun berlari, menghampiri tubuh ayahnya yang telah renta. Berlutut memohon ampun atas segala khilaf yang telah diperbuat. Air mata yang telah dibendung selama sepuluh tahun itu kini jebol tanggul. Mengalir bersama rindu yang tercurahkan. Ikatan yang telah renggang itu kembali terpaut. Menjadi jawab atas do’a yang telah dipanjat. Menjadi bukti atas kemurahan hati SANG ESA.
“ALLOHUAKBAR…ALLOHUAKBAR….ALLOHUAKBAR…ALLOHUAKBAR WALILLAILLHAM”
Gema takbir membahana. Mengisi langit di gelap malam. Bedug berdentum seraya detak jantung.
Gegap gempita membanjiri seisikota. Inilah malam kemenangan, kemenangan untuk seluruh umat
muslim di pelosok dunia. Kemenangan atas tertahannya nafsu. Kemenangan atas kendali dalam diri.
Teramat jelas alunan takbir itu terdengar. Terdengar oleh sepasang daun telinga. Milik seorang pria
yang telah berada di usia senja. Meski usia telah mengikis kemampuan ‘indera’nya perlahan, namun
seruan akan nama Tuhan itu tak pernah menjadi samar sedikitpun melewati genderang sang ‘indera’.
Langit gelap berada dalam tatapan matanya. Tubuhnya terpaku dalam diam, menghayati alunan
memuji Sang Pencipta. Getar bibirnya melafalkan ayat-ayat suci Sang Khalik. Dalam syair indah ayat-
ayat suci itu terselip sebua do’a, do’a yang mulai diucapkannya bertahun-tahun yang lalu. Dimana
tubuh renta itu masih berdiri kokoh, jauh hari sebelum usia perlahan menyedot isi dibawah kulit
kencang miliknya. Kulit yang kini telah mengkerut karena daging yang menariknya kini telah tiada.
Do’a yang selalu ia ucapkan setelah kenyataan yang sangat pahit menghampiri hidupnya. Kenyataan
yang telah meleburkan segala asa dan harapan yang telah ia bangun. Kenyataan bahwa anak laki-laki
satu-satunya yang ia miliki adalah seorang penyuka sesama jenis. Suatu kenyataan yang sangat tidak
bisa diterima oleh pikiran dan hatinya. Kenyataan yang telah berlalu sepuluh tahun lamanya.
Ketika pria itu hendak pulang kerumah setelah keringatnya diperas seharian oleh pekerjaannya. Tak
ada yang pria itu inginkan selain mengistirahatkan badannya. Namun nampaknya keinginan pria itu
menghilang ketika membuka pintu rumahnya. Retina matanya terasa bagai terkena lelehan timah
panas ketika sepasang bola mata miliknya mendapati sesuatu yang janggal dalam pandangannya.
Matanya menangkap kegiatan anak laki-lakinya yang tengah berciuman. Takkanmenjadi sebuah
persoalan yang besar bila yang dicium sang anak adalah seorang perempuan . Namun pemilik bibir
yang ia lihat adalah seorang yang berjenis kelamin sama dengan anaknya . Urat dalam tubuhnya
seketika mengencang, darahnya terasa mendidih dan mengalir deras menuju puncak kepalanya.
Tak dipungkiri lagi amarahnya menjadi. Anak yang ia banggakan telah berbuat nista dihadapan
matanya. Sumpah serapah pun tak terbendung lagi oleh lidahnya. Tendangan dan pukulan melayang
dari kaki dan tangannya. Tubuh anak yang baru duduk di kelas 2 SMA itu perlahan membiru.
Memberi tanda dari setiap hantaman yang diberikan sang ayah. Tak hentinya bibir yang disudutnya
telah meneteskan darah itu memohon ampun. Namun setan telah menutup rapat daun telinga
pria itu. Tak dihiraukannya rintihan sang anak yang mengaduh atas sakit dibadannya. Amarahnya
telah menyingkirkan akal sehat dalam pikirannya. Sang anak pun diusir. ‘Ditendangnya’ sang
anak dari kehidupannya. Diputuskannya ikatan darah yang mengikatnya, meski sejatinya ikatan
itu takkan pernah putus oleh suatu hal apapun. Namun setan telah merasuki tubuhnya. Tak
diperdulikannya nasib sang anak kelak, yang pikirkan hanya rasa malu memiliki seorang anak yang
tak ‘wajar’. Egonya menutup pandangannya akan sesal di kemudian hari. Rasa sesal yang semakin
akut ia rasakan di usianya kini. Sesal yang menjalar dalam nadinya dan mengalir bersama darahnya.
Sesal yang menggiring do’a terucap dari bibirnya. Do’a yang mengharapkan kepulangan anak semata
wayangnya.
Sepuluh tahun sudah do’a itu diucapkan dalam setiap sujudnya kepada Sang Pencipta. Memohon
belas kasih dari-Nya. Tak ada yang lebih ia harapkan dari kepulangan sang anak, menatap wajah
darah dagingnya sebelum matanya tertutup untuk selamanya. Namun waktu nampaknya telah
mengikis harapannya, meski takkanmampu melenyapkannya. Pasrah. Sebuah kata yang enggan ia
ucapkan, apalagi untuk dilakukan. Namun waktu terus berputar. Mengurangi masanya di dunia,
mengikis jatah udara yang dihirupnya. Dan tak luput melunturkan tekad yang membulat dalam
benaknya. ‘Pasrah’ pun perlahan berhasil menelusup dalam relung batinnya.
Diangkatnya badan renta miliknya, dilangkahkan kakinya. Perlahan sepasang kaki tua yang sudah tak
mampu berlari itu mendekati bibir jendela. Hembusan angin malam perlahan membelai lembut kulit
keriput di badannya. Perlahan tetesan air dari mata rabunnya membasahi pipinya. Meratapi kejadian
yang telah berlalu. Ratapan yang selalu ia rasakan. Ratapan yang terasa bagai tusukan beribu pedang
dalam ulu hatinya. Namun tak sedikitpun mampu ia lenyapkan. Apakah rasa sakit ini sama seperti
yang anaknya rasakan ketika ia mengusirnya dulu. Pertanyaan itulah yang senantiasa melancarkan
serangan pedang dalam hatinya.
…………………………
Genderang kemenangan telah ditabuh. Beribu kata maaf telah diucapkan. Lenyaplah dosa dari diri
yang menunaikan ibadahnya sepenuh hati.
Berbagai pasang kaki telah melangkah datang dan pergi melewati pintu yang ia buka lebar, selebar
pintu maaf yang ia buka dihatinya. Hidangan khas yang mengugah selera telah tersaji lengkap di
tempatnya. Namun tangannya enggan untuk menyentuhnya. Setelah silaturahmi dengan tetangga
yang mendatangi rumahnya, ia hanya terdiam. Tubuh tuanya kembali terpaku. Memulai rutinitas
tahunan miliknya . menatap penuh harap ke arah pintu yang terbuka. Menanti sepasang kaki masuk
melewatinya. Menanti tubuh yang ia rindukan memeluknya. Yah, kembali pria renta ini menanti anak
tercintanya pulang di hari yang fitri ini. Berharap keajaiban menghampirinya kali ini. Keajaiban yang
memang selalu ia harapkan di tiap hari dalam hidupnya.
Tak terasa mentari pagi telah merangkak ke tengah langit. Menguatkan pancaran sinar dalam
dirinya. Namun kuatnya pria ini tak sekuat sang surya. Kekuatannya kembali pudar ketika ia tersadar
akan kenyataan. Kenyataan bahwa anaknya takkan pernah kembali. Kenyataan bahwa ia sendiri
tak tau bahwa anaknya masih bernafas atau tidak. Kenyataan yang selalu ia pungkiri. Ia beranjak
meninggalkan penantiannya. Mengubur segala harapannya. Dan merelakan segala yang terjadi
dalam hidupnya. Namun Tuhan berkata lain. Do’a yang selalu pria itu ucapkan akhirnya menjadi
kenyataan. Sang anak pun akhirnya pulang. Sepasang kaki yang sangat dinanti itu akhirnya melangkah masuk ke tempat dimana seharusnya ia berada. Seiring waktu, tubuh kecil itu berubah tegap. Sepuluh tahun memang bukan waktu yang sebentar. Waktu yang lebih dari cukup untuk merubah penampilan, bahkan jati diri seseorang. Pria tua itu awalnya tak menyadari siapa yang berdiri di ambang pintu rumahnya. Menatap seorang anak muda yang begitu tampan dan bertubuh tegap. Berpenampilan sangat menarik dengan balutan kemeja dan jeans dari merek ternama. Namun dia adalah seorang ayah. Meski lama tak berjumpa. Meski wajah telah berubah rupa. Hatinya tak mungkin salah menyangka. Dia tau, anak muda itu adalah anaknya. Anak semata wayang yang telah diusir dari kehidupannya. Ingin rasanya dia melangkah mendekati tubuh sang anak, namun kakinya seolah membeku, merekat kuat pada ubin tempatnya berada. Hanya tetesan kecil yang mulai mencair dari kedua bola matanya. Lama mereka mematung dalam keheningan. Namun rasa rindu telah membuncah. Tak mampu lagi dikurung dalam hati . Sang anak pun berlari, menghampiri tubuh ayahnya yang telah renta. Berlutut memohon ampun atas segala khilaf yang telah diperbuat. Air mata yang telah dibendung selama sepuluh tahun itu kini jebol tanggul. Mengalir bersama rindu yang tercurahkan. Ikatan yang telah renggang itu kembali terpaut. Menjadi jawab atas do’a yang telah dipanjat. Menjadi bukti atas kemurahan hati SANG ESA.
Sabtu, 07 April 2012
THE RINGS
Budhayutz^^
THE RINGS
Purnama terang di puncak gelap malam. Semilir angin
berhembus menggelitik jiwa terbang ke alam tak nyata. Peraduan raga ketika
belulang terberai di dunia fana.
Mataku terbuka seketika. Terbangun dari tidurku. Untuk
kesekian kalinya, mimpi buruk hadir menjadi tamu tak di undang di kerajaan alam
bawah sadarku. Rutin mengusik khayalan dalam mimpi indahku. Kurasakan pening
mulai menjalar di saraf otakku. Membawa serta perih di bola mataku. Keheningan malam mempertegas detak jarum yang
senantiasa berputar beriringan dalam sangkar kaca berbentuk bulat. Sangkar kaca
yang terletak di sudut atas pintu kamarku. Sang jarum berhenti di angka tiga
saat ini. Kuangkat tubuhku, kusandarkan pada tumpukan bantal yang telah
tersusun. Mengumpulkan sisa kesadaranku. Serta menenangkan debar jantungku.
Lama aku tertunduk, bertumpu pada lututku yang bergetar. Sudah hampir seminggu
mimpi buruk yang seperti tadi selalu membangunkanku di
pagi buta seperti sekarang ini. Aku terdiam di heningnya malam, mencoba
mengembalikan sisa tenaga di lutut lemasku. Kuangkat kakiku. Mencoba
menggerakan tubuhku ke bagian lain sudut ruangan ini. Kusandarkan tubuh kecilku
di dinding. Kurasakan dingin menyelusup di badanku yang hanya mengenakan kaos
tanpa lengan. Lembab oleh udara malam
yang beranjak pagi. Kubakar sebatang rokok. Kuhisap dalam-dalam. Lalu
kuhembuskan asap tebal ke langit-langit. Perlahan bayangan masa lalu menyeruak
di benaku.
#flashback
“Rai...aku ingin kita putus” bibirku berucap di dalam
tunduk kepalaku. Tak mampu aku menatap wajahnya ketika kalimat itu terucap.
“HAH!!!! Maksud kamu apa?!” Rai bereaksi atas
ucapanku. Membuat pengunjung lain melirik ke arah kami.
“Aku ingin hubungan kita berakhir” suaraku lirih.
Kepalaku masih tertunduk. Menahan genangan air di kelopak mata.
“Tapi kenapa Yo?” suara Rai kini mulai teratur.
Lembut. Membuat keberanianku hadir untuk bisa menatap wajah lelaki terindah
dalam hidupku selama ini. Kutatap wajahnya. Tercetak jelas khawatir di saraf
otaknya. Namun tak mengurangi keindahannya. Rai memang tak memiliki wajah
setampan yang aku impikan untuk menjadi pasangan hidupku. Standar. Itulah kata
yang pas untuk menggambarkan keadaan fisik kekasihku ini. Karena Rai juga tak
memiliki rupa yang buruk. Namun ada sesuatu yang melebihi ‘standar’ fisiknya.
Jauh di dalam dirinya tersimpan sosok yang mampu membuatku bertekuk lutut
dihadapannya. Sosok bijak penyejuk sukma atas jiwa yang bergejolak. Tak terasa
air mataku mulai mengalir, menggantikan kata-kata yang tak mampu ku ucapkan.
Kekhawatiran nampaknya mulai memuncak dalam kepala Rai. Terkejut dan tak
percaya mungkin yang dia rasakan saat ini. Di genggamnya kini kedua tanganku, tak
memperdulikan atas reaksi orang-orang disekitar kami. Bibirnya kembali berucap
berbagai kata. Meminta jawaban dari diriku atas situasi seperti ini. Aku pun sudah tak tahan dengan situasi
seperti ini. Tak ingin menambah waktu untuk khawatir bergelayut lebih lama di
benak Rai. Otakku berputar. Berusaha mencari kalimat terbaik yang akan aku lontarkan. Dan
akhirnya...
“Aku mencintaimu tanpa alasan. Dan aku rasa, aku juga tak memerlukan alasan untuk berhenti
mencintaimu dan mengakhiri hubungan kita. Semoga kamu menemukan orang lain yang
lebih baik dariku.” Sebuah kalimat terlontar dari mulutku. Kalimat yang sangat
menyakitkan kurasa. Ku tarik tanganku dari genggaman Rai. Ku hapus air mataku dan
segera aku meninggalkan Rai, mencampakkannya ditengah kebingungan dan
pesakitan.
#end flashback
Kumandang adzan shubuh mulai menggema. Mataku tak
mampu kembali tertutup, rasa kantuk telah benar-benar sirna ketika mataku
terbuka seketika oleh mimpi buruk tadi. Hanya rasa perih oleh asap rokok yang
mulai terasa. Membuat mataku sedikit berkaca. Sedari tadi fikiranku melayang
namun mataku tak beralih, menatap sebuah kotak mungil berbalut beludru. Kotak
yang dikirim padaku seminggu yang lalu. Kotak yang membawa mimpi buruk di tiap
tidurku. Kuambil secarik kertas yang berada tepat disampingku. Secarik kertas
yang sudah tak berbentuk rupa. Kertas yang sudah ku remas ketika pertama kali
aku mendapatkannya. Kertas yang tulisannya
hampir memudar karena basah terkena tetesan air mata saat aku pertama
membacanya. Kertas yang ku kutuk atas kedatangannya. Namun tak dapat ku
hancurkan karena aku begitu merindukan pengirimnya. Kembali aku menatap barisan
kata yang tertulis rapi. Entah untuk yang keberapa kalinya aku membaca isi
kertas ini.
Aku menunggu dirimu
Aku berharap akan
kedatanganmu
Kamu yang akan datang membawa
bahagia dalam hidup
Kamu yang mampu lenyapkan
kelam dalam angan
Kamu yang akan menjaga hati
hingga tak ada derita yang menghampiri jiwa
Kamu yang mampu leburkan
nestapa hingga ku merasa di surga
Dear Ryo,
My Lovely One
Sebelumnya izinkan aku memberimu selamat atas
bertambahnya usiamu. Ingin rasanya aku memeluk tubuhmu, serta mencium keningmu
di hari bahagia untukmu. Menjadikan diriku bagian dari bahagiamu. Namun
nampaknya inginku hanya berakhir sebagai sebuah angan. Angan layaknya punguk
yang memimpikan indahnya sang rembulan. Sungguh, rasa penasaran ini tak pernah
beranjak dari benakku. Keingintahuan atas alasan dirimu mencampakanku, di
tanggal yang sama di tahun yang lalu. Mungkin lidahku telah membeku karena
tanya selalu keluar dari mulutku. Namun batinku tak pernah berhenti mencari
jawaban atas petaka yang terjadi.
Kadang aku berhayal, kau datang tiba-tiba menghampiri
diriku dan memelukku. Menyerahkan cinta dan ragamu dalam dekapanku. Khayalan
yang aku dapat setelah menonton film bergenre drama romantis. Genre film yang
mulai berhenti ku tonton ketika khayalan tentangmu berevolusi menjadi sebuah
harapan yang menyiksa relung batinku.
Satu tahun telah berlalu, waktu yang kukira cukup
untuk melupakanmu. Namun nyatanya wajahmu tetap terlukis sempurna di pandangan
mataku. Tak sedikitpun aku mampu melupakan senyum di wajahmu. Meskipun kenangan
tentangmu perlahan hancur oleh amarahku.
Maafkan aku telah
kembali mengusik kehidupanmu. Dan terimalah hadiah dariku. Hadiah yang
sejatinya akan mengikat cinta kita di tahun yang lalu. Namun di tahun ini,
anggaplah hadiah itu sebagai tanda perpisahan abadi kita.
Maafkan aku yang selalu mencintaimu dan tak sanggup
melupakanmu. Harapku selalu untuk bahagiamu.
Rai
Kembali sesak terasa didada. Membuat nafas tersenggal.
Hati dan hidupku terasa hancur. Perasaan yang aku dapatkan setiap kali membaca
kertas yang berisi tulisan tangan Rai ini. Kucoba meraih kotak beludru yang
terletak tak jauh dari keberadaanku. Kubuka kotak mungil itu. Didalamnya
terdapat sepasang cincin yang nampaknya terbuat dari emas putih. Cincin yang
dibuat sederhana tanpa dihiasi mata. Cincin yang keduanya diperuntukan untuk
jemari laki-laki, walaupun dibuat berpasangan. Baru kali ini aku berani
memperhatikan kedua cincin ini lebih dekat. Karena sebelumnya rasa sakitku
telah menghancurkan seluruh dayaku. Kuperhatikan baik-baik detil cincin
ditanganku ini, terdapat ukiran nama kami di bagian dalam masing-masing cincin.
Kupakai salah satu cincin yang ukurannya pas di jariku, cincin yang terukir
nama Rai didalamnya. Lama aku bermain dengan cincin di jariku. Membayangkan Rai
memasangkan cincin ini di jari manisku. Hingga tak terasa, mentari telah
menyinari dunia. Melenyapkan gelap. Dan membawakanku sebuah semangat yang
membulatkan tekad. “tunggu aku sayang, aku akan kembali dalam pelukanmu. Semoga
engkau masih berkenan menyambut cintaku.” Gumamku dalam hati. Segurat senyum
hadir di bibirku.
Satu bulan telah berlalu, terhitung dari aku menerima
kado dari Rai. Dan lusa aku akan kembali ke tanah kelahiranku. Tanah yang
dijuluki Kota Bunga yang dihiasi beribu kelopak cinta. Termasuk kelopak cinta
milikku. Rai. Rencana pulang lebih awal nampaknya tak mungkin terwujud karena
aplikasi surat cutiku tak mendapat restu dari sang empunya. Alhasil aku harus
menunda pertemuanku dengan Rai. Dan hari yang kutunggu-tunggu itu tak lama lagi
akan segera menghampiriku. Menggiring jiwa menuju taman cinta.
Andai saja dulu aku dapat lebih berhati-hati, mungkin
petaka itu tak kan pernah terjadi. Petaka yang memaksaku untuk hijrah ke kota
orang. Dan petaka itu pula yang memisahkan cintaku bersama Rai. Perih rasanya
bila mengingat hari itu. Hari dimana bencana itu terjadi.
#flashback
“Ryo...bangun!!!Ryo...Ryo...bangun!!!!” aku yang
sedang tertidur pulas tiba-tiba dibangunkan secara kasar. Tubuhku diguncangkan
tak karuan. Aku membuka mata. Kudapati Kak Dina berdiri tepat disampingku.
Sambil terus berteriak membangunkanku.
“Kenapa Kak? Ada kebakaran?” jawabku setengah sadar.
Kesal mimpiku dibuyarkan.
“Ga usah bercanda kamu!! Bangun!!!” kali ini nada
suara Kak Dina meninggi. Pertanda ia sedang benar-benar marah.
“Apaan sih kak?!” nada suaraku tak kalah meninggi.
Kekesalanku pun bertambah.
“itu apa?!” Kak Dina menunjuk ke arah layar laptop
dihadapanku. Aku menoleh. Dan, ASTAGA. Tadi aku tertidur di meja belajar di
kamarku. Dengan laptop masih dalam keadaan ON. Ditambah aku belum menutup akun
jejaring sosialku. Dan yang lebih parah, aplikasi chat di jejaring sosialku itu
belum aku tutup juga. Dan disitu tertulis jelas pembicaraanku dengan Rai
sebelum aku tertidur tadi. Sebuah pembicaraan yang cukup mesra diantara kami.
Semoga saja Kak Dina belum membacanya. Tuhan tolong aku.
“apa itu?! Jelasin sama kakak!!!” kembali Kak Dina
bersuara dengan nada tingginya.
“ehm..itu...ehm..anu...” aku yang tersudut dengan
situasi seperti ini tak mampu berkata lebih.
“kamu pacaran sama Rai??? Kamu GAY??!!” Kak Dina
mendesakku.
“hah..engga Kak..itu...kita cuma bercanda aja kok...”
jawabku mencari alasan.
“ga usah bohong kamu. Kelakuan bejatmu sudah
terbongkar. Kamu bisa mengelak tentang hubunganmu dengan Rai, tapi kamu lihat
itu” Kak Dina kembali menunjuk ke arah layar monitor. Aku mengikuti arah
telunjuk Kak Dina. DAMN!!!!
“situs porno yang kamu buka itu sudah cukup menjadi
bukti kalau kamu GAY!!!!” Kak Dina menekankan kata terakhir dalam kalimatnya
itu, seraya mendekatkan wajahnya pada mukaku, “dan bersiaplah, begitu papa
pulang, kakak akan ceritakan semuanya. Kakak ga sudi punya adik seorang
HOMO!!!!” lanjutnya. Dan Kak Dina pun keluar dari kamarku. Membawa rahasia yang
selama ini kujaga. Kurasakan kiamat akan segera menghampiri hidupku. Tak dapat
kubayangkan bila Kak Dina benar-benar menceritakan perihal ini kepada papa. Aku
mencoba menghubungi Rai, namun gagal, nomor Rai tidak aktif. Berkali aku
mencoba menghubungi Rai namun selalu gagal. Hingga akhirnya papa pulang. Dan
kiamat pun datang. Kak Dina benar-benar telah menghancurkan hidupku. Tak
dipungkiri lagi, aku mengutuk kakak tiriku itu. Setelah mendengar cerita dari
Kak Dina, darah papa mendidih, segera aku mendapat murka miliknya. Aku disidang
layaknya lelaki yang tertangkap basah berbuat zinah di muka umum. Tidak ada
ampun, dan tak bisa menawar hukuman. Papa langsung menyuruhku untuk memutuskan
hubunganku bersama Rai. Tentu saja aku menolak. Berusaha meyakinkan papa
tentang cinta yang kami jalani. Tapi bukan restu yang aku dapatkan, melainkan
sebuah ancaman. Papa mengancam akan melakukan berbagai cara untuk memisahkan
kami. Dan tak segan menularkan derita yang sedang ku alami pada Rai. Papa
memang memiliki kemampuan untuk melakukan itu semua. Dan aku tak ingin orang yang
sangat aku cintai merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Terpaksa aku
menuruti semua keinginan papa. Termasuk meneruskan usaha papa dengan memimpin
salah satu cabang usaha miliknya di Surabaya. Biarlah Rai merasakan sakit atas
cintaku , karena aku yakin suatu saat nanti Rai akan menemukan sosok pengganti
yang jauh lebih baik dariku. Namun jangan sampai dia merasakan sakit atas
rahasia yang terbongkar pada keluarga. Dia adalah tumpuan keluarga, tak ingin
aku menyakiti hati ibu Rai yang telah kuanggap seperti ibuku sendiri.
#end flashback
Cukup lama waktu yang aku butuhkan untuk meyakinkan
diriku atas keputusan yang aku ambil sekarang. Kini tekadku sudah bulat, tak
ingin aku mengulangi kesalahanku dulu. Tak ingin aku terpisah lebih lama lagi
dari orang yang sangat aku cintai. Selama perjalanan pulang tak hentinya aku
mengucap harap, berharap Rai akan menerimaku kembali dan memaafkan segala
kesalahanku. Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya aku tiba di
kota kelahiranku. Bandung. Dan di kota ini pula cinta kami lahir. Setelah
sampai aku tak langsung pulang ke rumah, melainkan memilih menginap di hotel.
Bersembunyi dari papa. Aku tak ingin dia mengetahui tujuan dari kepulanganku,
dan kembali menghancurkan kebahagiaanku. Sudah tiga hari aku berada di tanah
sunda ini, namun aku masih mengulur waktu menunda pertemuanku dengan Rai. Entah
kenapa, rasanya hati ini belum siap. Menghabiskan waktu tiga hari ini mengenang
masa-masa indah kami dahulu. Aku datangi beberapa tempat yang menjadi saksi
mati atas kebersamaan kami dahulu, dan seketika keberanianku memuncak ketika
aku tiba di sebuah jembatan. Jembatan Pasupati. Tempat dimana Rai mengungkapkan
perasaannya padaku. Dan tempat dimana sebuah janji di ikrarkan.
#flashback
#flashback
“Rai kita mau kemana ??” tanyaku setengah berteriak di
belakang boncengan Rai.
“Kerupuk !!!” jawab Rai sekenanya diikuti pukulan yang
aku berikan di punggung Rai. Aku sudah mengenal Rai semenjak di bangku SMA,
semakin hari hubungan kami semakin dekat hingga sekarang. Walaupun aku dan Rai
kini terpisah karena berbeda Universitas, namun hubungan kami tak menjadi
renggang malah semakin akrab. Dan seiring berjalannya waktu rasa cinta pun
tumbuh di hatiku. Aku sudah merasakan perbedaan orientasi seksualku sejak masih
SMP, jadi aku merasa tak terlalu aneh bila tiba-tiba aku menyukai Rai. Namun
aku berhasil menutupi itu semua, termasuk dari Rai. Aku tak ingin sahabat yang
aku sayangi menjauh. Maka aku tahan perasaanku padanya, mencoba menjadi
senormal mungkin, layaknya dua lelaki yang bersahabat tanpa memiliki perasaan
khusus. Dan seperti malam ini, aku kembali memainkan peranku, menghibur
sahabatku yang baru putus dari pacarnya (perempuan tentunya). Dan kebetulan aku
juga baru putus dari BF-ku (kalo yang ini Rai gak tauuu..). alhasil malam
minggu ini kami habiskan berdua, Rai menghentikan laju motornya, kami menepi di sisi jalan sebuah jembatan. Jembatan
yang menjadi tempat favorit pasangan kekasih untuk bermalam minggu. Tempat yang
romantis menurutku, walaupun terletak di pinggir jalan sebuah jembatan. Deru
suara knalpot kendaraan yang ramai lalu lalang menjadi live music pengiring
kebersamaan kami. Bahagia rasanya, menikmati indahnya kerlip lampu kota di
malam hari bersama orang yang aku cintai. Lama kami bersenda gurau ditemani
sebungkus rokok dan dua botol minuman randah alkohol, hingga tak menyadari
sekitar kami telah sepi. Pasangan muda-mudi satu persatu berlalu, hanya
tertinggal beberapa pasang saja. Termasuk kami. Udara malam kian menusuk
tulang, jaket yang aku pakai tak mampu menghalanginya. Aku yang kedinginan
mencoba menghangatkan diri, menggosokkan kedua telapak tanganku. Tiba-tiba....
“dingin yaa ?? sinii....” Rai yang berdiri di
sampingku tiba-tiba beranjak, menggeser posisinya hingga tepat di belakangku.
Lalu. Sepasang tangan melingkar di badanku, Rai memelukku. Rasanya seperti
jatuh seketika dari jembatan tempat kami berada sekarang, tubuhku yang
kedinginan tiba-tiba mati rasa. Berbagai macam fikiran melintas di otakku,
ingin aku berontak, melepaskan pelukan Rai. Namun aku juga tak ingin melewatkan kesempatan yang aku impikan selama
ini. Lama batin dan logikaku berseteru. Hingga terasa hembusan hangat di
telingaku.
“aku mencintaimu Yo. Mencintaimu sejak dulu.” Rai
berbisik lembut di telingaku, membuat bulu kudukku berdiri karena geli.
Sekaligus membuat jantungku berhenti berdetak seketika karena kalimat yang
terucap dari mulutnya.
“ta..tapi Rai” suaraku terbata. Gugup oleh keadaan.
“sudahlah Yo, gak ada lagi yang perlu kamu tutupi. Aku
sudah tau semuanya, kamu juga menyukai laki-laki kan. Yang sekarang aku ingin
tau apakah kamu merasakan apa yang aku rasakan kepadamu Yo ??” Rai menjelaskan,
memberikan sedikit ketenangan dalam diriku. Aku lepaskan pelukan Rai. Berbalik.
Merubah posisi kami menjadi saling berhadapan. Kulihat raut ketegangan di muka
Rai, menunggu jawaban yang akan aku lontarkan.
“Jawablah Yo, sudah terlalu lama aku menyimpan
perasaan ini. Tak ingin lagi aku menunggu lebih lama.” Kali ini dia memohon.
Tak ada kata yang keluar dari mulutku. Hanya segaris senyum yang aku berikan,
membuat satu alis milik Rio terangkat, dan kini giliranku memeluknya,
mendekapkan tubuhku padanya.
“Aku juga mencintaimu Rai, mencintaimu sedari dulu.”
Mendengar ucapanku, Rai seketika membalas pelukanku, mengusir udara dingin
ditubuhku. Lama kami berpelukan, tak memperdulikan tatapan aneh yang tertuju
pada kami, dan akhirnya kami lewati malam ini sebagai sepasang kekasih.
Mencopot gelar sahabat yang telah mengikat kami selama ini.
“Aku tak ingin kehilanganmu Rai” ucapku lirih yang
bersandar di bahu kokoh milik Rai.
“Aku juga sayang. Berjanjilah padaku, apapun yang
terjadi kamu tak kan pernah meninggalkanku.”
“Aku janji Rai. Aku tak akan meninggalkanmu walau maut
yang memisahkan kita. Aku akan selalu bersamamu.”
Sebuah ikrar janji yang terucap dari mulutku. Janji
yang akan menjadi pilar istana cinta kami.
#end flashback
Pagi ini aku begitu bersemangat , tak sabar ingin
segera menemui belahan jiwaku. Dengan membawa kotak beludru pemberian Rai
beserta isinya, aku berangkat menuju kantor Rai. Bermaksud memberinya sebuah
kejutan. Setibanya di kantor dimana Rai mencari uang untuk sesuap nasi, aku
segera menghampiri meja resepsionis. Menanyakan dimana letak keberadaan Rai,
atau meminta wanita cantik yang sedang bertugas itu memanggilnya untuk
menemuiku. Namun ternyata Rai tidak berada ditempatnya, wanita yang kuketahui
bernama Ane itu mengatakan Rai sudah satu minggu tidak masuk kerja. Dikarenakan
sakit. Rasa cemas segera menggelayut dibenaku, setahuku Rai adalah sosok yang
kuat dan bertanggung jawab. Dia tidak akan meninggalkan pekerjaanya selama itu
walaupun dalam kondisi yang tidak baik. Apakah separah itu sakit yang
dideritanya? Penyakit apa yang hinggap ditubuhnya, hingga ia meninggalkan
pekerjaannya begitu lama. Berbagai pertanyaan hadir di otaku, menambah berat
kekhawatiran di hatiku. Tanpa membuang waktu, aku segera menuju rumah Rai, berharap
ia ada dirumah dan tidak sedang dirawat dirumah sakit. Selama perjalanan menuju
rumah Rai, aku mencoba menghubungi dirinya, mengurungkan kejutan yang ingin
kuberikan. Namun nomor HP Rai tidak aktif, aku semakin gelisah dibuatnya.
Akhirnya aku tiba diperumahan dimana rumah Rai berada. Jalan yang diportal dan
ditambah dengan tak ada penjaga yang mengawasi, membuatku harus turun dari taxi
yang kutumpangi, dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jarak rumah
Rai yang tidak terlalu jauh membuatku tak banyak menghabiskan waktu. Aku sudah
tiba di depan rumah Rai, namun rasa khawatirku kini kian menjadi. Mendapati
rumah Rai yang begitu ramai, dipenuhi manusia berseragam hitam berlalu-lalang.
Dan lututku semakin lemas, mendapati bendera kuning terpasang di pagar rumah
milik Rai. Serta alunan ayat suci Al-Qur’an yang samar terdengar dari dalam
rumah membuatku semakin merinding. Tuhan, apakah Rai?
Segera aku berlari masuk ke rumah Rai. Ruang tamu yang
dulu berisi meja dan kursi, kini telah disulap menjadi sebuah ruangan kosong.
Yang hanya beralaskan permadani. Rasa haru menyelimuti setiap sudut ruangan.
Badanku lemas. Aku terjatuh berlutut. Menatap seorang terbaring kaku ditutupi
oleh sehelai kain. Tepat disampingnya, seorang ibu menangis histeris. Berkali
menyebut nama anaknya yang telah tiada. Berharap sang anak akan segera membuka
matanya layaknya terbangun dari tidur malamnya.
“Rai...bangun nak. Jangan tinggalin Ibu. Bangun nak.
Bangun....” tak hentinya sang Ibu meronta. Seakan segala usahanya itu akan
merubah keadaan menjadi hanya sebuah mimpi belaka. Tak dapat kuungkapkan
perasaan hatiku saat ini. Hidupku terasa terbentur pada sebuah jalan buntu.
Ingin rasanya aku menangis dan meronta seperti sang Ibu. Namun daya dalam
tubuhku tak mencukupi, jangankan untuk mengerakan tubuh ku untuk meronta-ronta,
hanya sekedar mengeluarkan suara dalam tangispun aku tak mampu. Hati ini terasa begitu sakit,
sehinga seluruh tenaga dalam otot-ototku sirna. Hanya air mata yang tanpa
komando bercucuran tanpa henti. Kupaksakan tubuhku bangkit. Berusaha mendekati
sosok kaku tak bernyawa dihadapanku. Namun sebelum aku berhasil mendekat, mata
sang Ibu lebih dulu menyadari keberadaanku. Nanar sorot matanya diarahkan
padaku. Sebuah tatapan yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya.
“Mau apa kamu datang kesini?!” sang ibu melontarkan
kalimat padaku di tengah isak tangisnya. “Belum puas kamu dengan apa yang kamu
lakukan pada anakku?!!” lanjut sang Ibu. Sungguh aku tak mengerti apa yang
diucapkannya.
“Bu...tenang Bu...” wanita lain yang sebaya dengan
sang Ibu mencoba menenangkannya. Namun tak berhasil. Amarahnya kian menjadi.
“Dasar pembunuh!!!! Pergi kamu!!!! Kamu sudah membunuh anakku. Jangan pernah
kamu injakan kakimu dirumahku!!!” sang Ibu berteriak histeris, menyalahkanku
atas kematian anaknya. Aku yang tak mengerti dengan keadaan, hanya bisa terdiam
ditengah tangisanku. Tiba-tiba dua pasang tangan mengangkat tubuhku, awalnya
kukira mereka bapak-bapak yang melayat, namun perlahan sikap mereka semakin
kasar menarik tubuhku. Aku menoleh, dua orang berseragam security dengan postur
tubuh yang tak kecil sedang menyeret tubuhku, menjauh dari jasad Rai yang
terbaring kaku. Aku mengenali mereka sebagai ajudan Papa. “mau apa kalian?!
Lepasin gue!!!” aku meronta. “maaf tuan. Tapi tuan besar memerintahkan kami
untuk membawa tuan pulang kerumah” salah satu ajudan bersuara. “gue ga mau!!!
lepasin gue” kembali aku memberikan perlawanan. Namun sia-sia, besar tubuh dan
tenagaku tak mampu mengimbangi mereka. Akupun dibawa paksa untuk pulang
kerumah.
****
Seminggu berlalu sejak kematian Rai. Pertanyaan
tentang penyebab kematian Rai berkecamuk di otakku sejak saat itu. Namun tak
ada yang dapat kulakukan untuk mencari tahu. Papa memberikan penjagaan ekstra
ketat untukku. Semua alat komunikasiku dicabut. Dan aku tak di izinkan untuk
meninggalkan kamar. Seluruh aktifitas yang rutin dilakukan oleh manusia
bernyawa aku lakukan dalam kamar ini.
Namun cahaya terang perlahan menelusup dalam gelapnya hidupku kini.
Jawaban tentang kematian Rai kini mulai terungakap. Samar aku mendengar penjaga
kamarku berbincang di depan pintu. Mereka membicarakan Rai, dan tentu saja
kematiannya. Mataku terbelalak seketika, ketika mendengar kenyataan bahwa
Papalah dalang dibalik kematian Rai. Papa memerintahkan ajudan-ajudan bertubuh
besar miliknya untuk memberi pelajaran terhadap Rai, pelajaran yang tak mungkin
Rai lupakan selama hidupnya, namun Papa yakin cukup untuk Rai melupakanku. Saat
itu Papa begitu marah ketika Rai datang menemui papa dan meminta restu dari
papa untuk hubungan kami. Kejadiaan itu dua minggu setelah Rai mengirim kado
untukku. Awalnya papa hanya mengusir Rai, namun Rai tetap memaksa hingga amarah
Papa benar-benar tak terbendung lagi. Diperintahkannya ajudan-ajudan itu untuk
menghajar Rai. Rai dihajar sedemekian rupa hingga tak sadarkan diri. Tubuhnya
dibuang dijalan. Namun ia masih bernyawa. Setelah dibawa kerumah sakit oleh
warga sekitar yang menemukan Rai dipinggir jalan, Rai mengalami koma sebelum
akhirnya nyawanya ditarik oleh sang malaikat.
Aku mengutuk diriku sendiri. Mengutuk diriku yang tak
mampu memperjuangkan cintaku. Berbanding terbalik dengan Rai, yang tetap
mempertahankan cintanya padaku hingga akhir hidupnya. Kembali aku meratapi kepergian
Rai. Diiringi bayangan tentang masa lalu kami berdua. Dan seketika amarahku
membuncah ketika bayangan itu menampakan sosok Papa dan Kak Dina. Tak terasa
tanganku bergerak tanpa arah dan kendali, menghancurkan seluruh isi kamar.
Menjadikan seluruh isi kamarku sama hancurnya dengan hidupku saat ini, meski
tak mampu menandingi.
****
“Wahai kekasih, izinkanlah aku memenuhi janji yang
telah aku ucapkan dahulu. Izinkan aku tuk selalu bersamamu. Tak kan lagi aku
mengecewakan dirimu. Tak kan lagi raga ini menjauh dari relungmu. Aku kan
selalu berada disampingmu. Menemanimu dalam heningnya kubur.”
Kutatap nisan bertuliskan nama Rai dihadapanku. Kini
aku telah begitu dekat dengannya. Setelah segala upaya ku kerahkan untuk keluar
dari neraka dunia milik Papa. Kini aku ada berada dihadapanmu, dan tak lama
lagi kita akan berjalan beriring menuju indahnya taman surga. Kuletakan cincin
yang diperuntukan untuk jari Rai. Dan kupakai cincin untuku. Kupenuhi
keinginanmu wahai cinta. Cincin ini akan mengikat cinta kita. Wahai malaikat,
segeralah datang untuk menjemputku. Dan bawalah diriku untuk menemui cintaku.
Kuarahkan sebuah moncong senapan tepat di kepalaku.
Kugerakan jariku untuk segera menarik pelatuknya. Dan.... DOOORRRR!!!!.
Minggu, 04 Maret 2012
SEBUAH KATA MAAF
SEBUAH
KATA MAAF
Maafku…Sesalku…
Akan
kubawa hingga raga tak bernyawa…
Maafku…Sesalku…
Bukti
kebodohan diri atas cinta…
Maafku…Sesalku…
Aku menangis dalam jiwa…
Aku termenung. Menatap
perapian di pojok ruangan. Fikiranku melayang entah kemana. Dan kantuk belum
juga mampir di kelopak mataku. Kulirik jam dinding tua yang berada tepat diatas
perapian. Berbentuk kotak dengan ukiran kuningan pada bingkainya. Jam tua itu
berbisik padaku tentang waktu saat ini. Jam dua pagi lewat lima belas menit.
Aku tak pernah sanggup terjaga hingga selarut ini bila sendirian. Walau kafein
dalam larutan kopi telah membantuku. Namun kini mataku terjaga hebat, walau
temanku hanya segelas bandrek instan. Teman-temanku yang lain telah memulai
petualangan mereka di alam mimpi. Nampaknya mereka kelelahan dengan aktifitas
mereka masing. Yang disambung dengan perjalanan menuju rumah mewah tempat kami
berlibur 3 hari kedepan. Yah..sekarang
aku berada disebuah villa mewah yang terletak di pinggiran kota Bandung. Aku dan
7 orang temanku.
Lamunanku lebur ketika
aku mendengar suara pintu tua itu dibuka. Pintu kamar yang terletak dibelakang
punggungku sekarang. Aku menoleh. Mendapati sosok pria berjalan melewati daun
pintu yang terbuka itu. Mata kami sempat beradu pandang seketika. Segera aku
berbalik, kembali pada posisi semula. Menatap perapian. Aku mendengar
langkahnya menjauh. Menuju arah dapur. Fikiran kosongku kini mulai terisi.
Bayangan Indra hilir-mudik di otaku. Indra. Sosok lelaki yang aku lihat
barusan. Indra Prasetya. Sahabat karibku di masa SMA dahulu. Dahulu, sebelum
kami berpisah oleh kebodohanku. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya
kembali setelah sekian tahun tanpa komunikasi. Keterkejutanku dimulai saat aku
tiba ditempat kami berkumpul sebelum berangkat kemari. Begitu juga Indra. Aku
dapat melihat rasa heran dimukanya ketika aku datang. Aku yakin, teman-temanku
pasti merahasiakan keikutsertaan kami. Mengingat mereka tahu betul hubungan aku
dan Indra tidak terlalu baik.
Sosok Indra kini begitu
jelas terngiang di kepalaku. Perawakannya berubah. Tak seperti dulu. Saat kami
masih tertawa bersama. Hanya kacamata yang masih ia kenakan seperti dulu. Walau
bentuknya telah berubah. Badan kurusnya kini telah terisi. Walau tak atletis,
namun cukup untuk membuat lelaki sepertiku ingin membenamkan kepalaku
didadanya. Kulit coklatnya masih terjaga dengan baik. Dan seraya dengan
bertambahnya usia, ketampanannya pun ikut berlipat ganda. Wajah mulusnya
menandakan ia selalu merawat diri.
Indra telah kembali ke
kamar. Dan meneruskan petualangan mimpinya. Namun benaku tak juga berhenti
memikirkannya. Dan sesekali otaku berputar mengingat hubungan aku dan Indra
dahulu. Seketika rasa sakit menyeruak di sendi dan tulangku.
****
“Woi bangun!!!! Kalo
cuma mau tidur sewa hotel aja, ga usah jauh-jauh sewa villa” suara Radit
berhasil menariku ke alam nyata. Aku terdiam, berusaha menunggu sisa
kesadaranku terkumpul.
“Sekarang jam berapa
Dit?”
“Jam 11” Radit yang sekarang sedang membuat
larutan kopi menjawab pertanyaanku.
“HAH!!!” aku tersentak.
“SHIT!!! I’d lost my sunrise!!!” umpatku kesal. Dan nampaknya umpatanku
berhasil menumpulkan semua kesadaranku. Aku tertidur dikursi tadi malam. Dan
sekarang villa nampaknya sudah kosong.
“Yang lain kemana Dit?”
“Pada mau main ke sawah
katanya”
“Kamu ga ikut?’
“Aku baru bangun juga.
Sama kaya kamu” kalimat terakhir Radit berhasil membuatku ingin melemparnya
dengan bara api di perapian.
Setelah mandi dan
sarapan ( makan siang seharusnya ) aku bergegas menyusul teman-temanku yang
lain di persawahan. Tak lama aku berjalan, aku dapat menemukan keberadaan
mereka. Mereka sedang asik bermain dan bersantai di sebuah saung di tengah
hamparan luas taman padi yang sudah menguning. Pemandangan yang sangat indah.
Aku juga dapat melihat Indra disana. Mengenakan kaos biru langit dan celana
selutut. Hatiku mulai kikuk. Ragu untuk mendekati mereka. Namun Tama telah
melihat kedatanganku. Tak mungkin aku berbalik arah dan kembali ke villa. Dan
mereka pasti bertanya-tanya atas sikapku, walaupun mereka sudah mengetahui
alasan sebenarnya.
“Woi…sialan lu semua.
Ninggalin gue” aku berteriak ketika kaki hampir mendekati keberadaan mereka.
“Ya salah lu sendiri.
Tidur kaya kebo!!” Lisa menimpal sapaanku.
“Eh…foto yu” kali ini
Ikbal bersuara.
Kami berkumpul, berpose
di hadapan kamera digital milik Ikbal. Jepret…jepret…jepret… tanpa disadari
posisiku tepat disamping Indra sekarang. Karena dari jepretan pertama kami
selalu pindah posisi. Aku dibuat kikuk dengan keadaan seperti ini. Begitu pula
dengan Indra. Kami tak fokus pada kamera Ikbal. Benar saja. Ketika Ikbal
memperlihatkan hasil jepretan kameranya, ekspresi kami benar-benar tak karuan.
Dan yang lebih parah lagi, ternyata Ikbal hanya memasukan kami berdua di foto
itu. Sontak tawa dan sindiran tak terelakan. Kulihat wajah Indra memerah. Dan
sesekali membalas sindiran mereka.
Hari mulai sore, dan
nampaknya langit malam ingin segera menyapa kami. Kami segera pulang, menyudahi
menikmati hari pertama liburan kami. Kami berjalan beriringan di sebuah
pematang sawah. Aku berjalan tepat di depan Indra yang memiliki posisi terkahir
barisan. JEPRUT!!! Tali sandalku putus, aku yang tak memperhatikan jalan karena
sedang memperhatikan tingkah konyol teman-temanku, tiba-tiba terjatuh karena
hilang keseimbangan. Namun badanku tak sampai menyentuh tanah, seseorang
dibelakang menyelamatkanku. Indra menahan tubuhku agar tak terjatuh. Cukup lama
kami berada dalam posisi sinetron seperti ini. Hatiku bergetar ketika melihat
mata indra yang sedang memandang mataku. Aliran listrik seperti mengalir
diantara mata kami. GOD!!!!
****
Hari ini terasa begitu
cepat berlalu. Adzan Isya telah berkumandang satu jam yang lalu. Teman-temanku
yang lain tengah asik bermain kartu di ruang tengah. Sedangkan aku memilih
menyendiri, menikmati indahnya bulan yang bersinar penuh di langit hitam. Dan
sampai detik ini aku belum bisa mengusir bayangan Indra dibenaku. Aku tersenyum
mengingat kedekatan kami dahulu. Banyak hal konyol yang kami lakukan bersama.
Aku posisikan Indra sebagai seorang kakak yang bijaksana dan dewasa. Sedangkan
aku yang manja, selalu merengek pada Indra. Semakin lama kedekatan kami
ternyata menumbuhkan rasa yang salah dihatiku. Dan semakin lama rasa ini
semakin kuat. Semakin tak dapat ku bendung.
“KLIK”
Seseorang telah
menjentikan jarinya tepat di depan mukaku. Dan menggiring kesadaranku kembali
ke dalam raga. Aku menoleh.
“Hei..ngapain
sendirian?” senyum manisnya mengembang. Kumpulan nyawaku terberai kembali.
Mendapati sosok dihadapanku sekarang. Indra. Yah Indra datang menghampiriku.
Dan menyapaku tentunya. Aku tak percaya. Setelah sekian lama, ternyata dia
masih mau berbicara denganku. Keadaan yang aku tunggu selama kurun waktu 3
tahun lebih kini terjadi. Lama aku terpaku dalam ketidak percayaanku. Keadaanku
membuat Indra kembali menjentikan jarinya.
“Haloooo…”
“Eh..iya..apa…kenapa”
aku gugup. Tak dapat menguasai diriku. Dalam hati aku mengumpat kebodohanku.
Dan Indra hanya tersenyum manis.
“Bengong aja. Ntar
kesambet loh” kini Indra duduk disampingku. Dan aku hanya mampu sanggup
tersenyum kikuk, tak membalas sapaan Indra. Sejenak kami terdiam, menatap
indahnya purnama malam.
“Apa kabar?” nampaknya
Indra memulai pembicaraan.
“Baik. Kamu?”
“Sangat baik. Ga gabung
sama yang lain?”
“Ga ah. Disini aja.
Jarang dapat kesempatan seperti ini dikota. Kamu sendiri?” aku membalikan
pertanyaan. Otaku beku tak dapat memikirkan pertanyaan lain.
“Bosen” sebuah jawaban
singkat.
“Sekarang kamu kerja
atau kuliah?” aku benar-benar berusaha mencairkan suasana.
“Dua-duanya. Kamu?”
“Kerja aja”
Dan selanjutnya sedikit
demi sedikit tembok besar yang menghalangi kami perlahan roboh. Tak terasa lagi
perasaan canggung yang selalu hadir bila kami bersama. Banyak hal yang kami
bicarakan malam mini. Pengalaman kami bekerja, perkuliahan Indra, desa tempat
kami berlibur, bahkan sampai berita tentang artis ibukota tek lepas dari topik
pembicaraan kami. Namun tak sedikitpun kami menyinggung masa lalu.
Tak terasa malam telah
larut. Suara gaduh diruang tengah menjadi sunyi. Kelopak mataku pun kini terasa
berat. Dan esok hari aku tak ingin kembali terlewat indahnya matahari terbit.
“Uhm…aku duluan yah.”
Aku mencoba pamit pada Indra.
“Udah gantuk?”
“iya… lagi pula aku tak
ingin ketinggalan sunrise seperti tadi pagi”
“Owh..ok”
“Good nite”
“Nite too. Sleep well”
senyum indahnya kembali mengembang. Aku balas senyumnya sebelum aku beranjak
menjauhinya, dan mendekati kasur empuk miliku selama 3 hari ini. Rupanya mataku
tak dapat langsung menutup. Bayangan Indra masih tak ingin meninggalkan
kepalaku. Aku tersenyum sendiri. Bahagiaku kini tak dapat kutuliskan.
****
Pukul 5 pagi alarm
telah membangunkanku. Aku benar-benar tak ingin melewatkan sunrise pagi ini.
Segera aku bersiap, menunggu mentari muncul dibalik Gunung Mayit. Aku kembali terkejut.
Tiba-tiba Indra muncul, membawa dua gelas kopi dan sepiring pisang goreng yang
masih hangat. Aku sedikit heran, darimana ia mendapat pisang goreng di pagi
buta seperti ini.
“Morning” sapanya
seraya menyimpan bawaannya. Sapaannya terasa begitu mesra di telingaku.
“Morning too” aku
menjawab. Disusul dengan senyum terbaiku.
“It’s a beautiful
morning, right?”
“Yeah” jawabku. With
you beside me. Gumamku dalam hati.
Perlahan bola kuning
kemerah-merahan mulai merangkak naik di balik pegunungan. Perlahan tapi pasti.
Hangatnya sinar mentari, perlahan mengusir dinginnya embun pagi hari. Sesaat
mataku bertingkah nakal. Melirik makhluk indah disampingku. Aku dapat melihat
wajahnya bercahaya diterpa sinar sang surya. Aku terpaku. Menikmati indahnya
karya tangan Tuhan yang terwujud pada makhluk disampingku. Hatiku bertanya.
Apakah perasaan yang telah aku kubur bertahun-tahun lamanya ini telah bangkit
kembali. Layaknya surya yang sedang kami pandangi. Namun apakah kini rasa itu
mampu menerangi hidupku dan menghangatkan jiwaku. Ataukah akan terulang kembali
deritaku dulu. Ketika rasa ini menggelapkan seluruh duniaku. Perasa dan logika
bergulat hebat di otaku. Tiba-tiba Indra melirik ke arahku. Menagkap basah
diriku yang sedang menatap indah wajahnya. Dia tersenyum manis. Membuatku
semakin salah tingkah.
****
“Ndra, tolong beliin
lampu dong” pinta Radit pada Indra.
“Lampu buat paan?”
“Lampu buat ruang
tengah. Tadi pagi putus. Lu ga mau kan malam terakhir kita disini kita
gelap-gelapan” Radit menjelaskan.
“Kenapa bukan lu aja
yang beli? Atau Ikbal? Atau Tama? Kenapa mesti gue??” Indra protes.
“Ya kan lu tau kaki gue
masih bengkak gara-gara jatuh di sungai tadi. Ikbal sama Tama lagi nganter
Tantri sama Lisa liat kebun kol. Keburu malem kalo nunggu mereka pulang” dengan
detail Radit menjelaskan.
“Iya deh” Indra
mendengus malas.
“Ki, anterin yu beli
lampu” kini Indra mendatangiku yang sedang duduk menikmati langit sore. Dari
tempatku berada sekarang aku dapat mendengar percakapan Indra dan Radit dengan
jelas. Jadi aku tak perlu kembali bertanya pada Indra. Aku langsung mengangguk
setuju saja. Kasian juga kalau Indra harus pergi sendiri.
Kami segera berangkat
setelah sedikit bersiap. Kami mencari warung terdekat. Namun nampaknya warung
sekitar villa hanya menyediakan sembako. Terpaksa kami harus mencari mini
market di pintu masuk desa. Aku melihatnya kemarin ketika sampai disini.
Batuan tanpa aspal
sedikit menyulitkan perjalanan kami. Aku yang dibonceng takut tubuh kecilku
terhempas ke batuan itu. Aku mencengkram kuat pegangan motor samping. Indra
yang menjalankan motor sedikit kencang tak menyadari lubang dihadapannya.
Alhasil tubuhku tersentak setelah motor mengenai lubang itu. Refleks
cengkramanku berubah posisi. Kini kedua tanganku melingkar di perut Indra. Tak
tahan dengan posisi ini, aku segera menarik tanganku. Namun, sebelum tanganku
kembali seperti semula, Indra berasil mencegahya. Kini tangan Indra bertumpuk
diatas jemariku.
Kami telah mendapat
barang buruan kami. Segera kami kembali pulang. Namun rintangan tak hentinya
menerpa perjalanan kami. Kali ini hujan berhasil membuat kami mampir di sebuah
warung bajigur.
“Ki..”
“Iya”
“Maafin aku yah” aku
menoleh. Senyum indah kembali hadir.
“Maaf buat apa?”
“Maaf untuk sikapku
dulu padamu” kalimat ini diucapkan Indra perlahan. Berbeda dengan maaf
sebelumnya yang masih diiringi senyum. Indra tertunduk. Wajahnya mendung
seperti langit saat ini. Akupun tak menyangka, kata maaf itu akan keluar dari
mulutnya. Sekali lagi. Aku teringat saat itu. Saat aku dan Indra duduk di kelas
2. Saat aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Saat aku sangat
mencintainya dan tak ingin kehilanganya. Perhatian yang ia tunjukan padaku
membuatku berpikir bahwa ia memiliki perasaan yang sama seperti yang aku
rasakan. Dengan berbekal keberanian dan pengharapan, aku putuskan untuk
mengakui semua perasaanku pada Indra. Namun ternyata aku salah langkah.
Nampaknya ini tak sperti yang aku harapkan. Bukan balasan cinta yang aku
dapatkan. Malah kenyataan pahit dimana sahabat terbaiku kini menjauh. Menjauh meninggalkanku
bersama cinta yang tak terbalas. Ironis. Cintaku ditolak tanpa ada sepatah
katapun kalimat penolakan yang aku dapatkan. Indra hanya diam. Dan diamnya
telah meleburkan mimpku.
“ Ga ada yang perlu di
maafin Ndra. Wajar bila sikap kamu seperti itu dulu. Aku ngerti” aku berusaha memberi
jawaban terbaik.
“Apakah rasa cinta
untuku masih ada dihatimu saat ini?” kali ini Indra membuat hangatnya bajigur
yang aku minum terasa bagai air mendidih yang mengalir menuju pusat nadiku. Aku
terdiam. Pertanyaan Indra membuat lidahku kelu.
“Apa kamu masih
mencintaiku?” Indra kembali bertanya. Tak sabar menunggu jawabanku.
“Apakah penting buat
kamu apa yang aku rasakan? Rasa itu masih ada atau telah tiada tak kan merubah
keadaan atau membalikan apa yang telah terjadi kan??!!” entah kenapa hatiku
mulai panas. Amarah mulai terasa di darahku. Borok dalam hatiku kini kembali basah.
“Tapi seenggaknya kita bisa
mulai dari awal lagi”
“Maksud kamu??!!”
“Aku mencintaimu Ki. Aku
mencintaimu sejak dulu kala.” Kilatan petir dilangit mendung kini terasa
menyambar hatiku. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan Indra.
“Cinta???Sebenarnya
maksud kamu apa sih??” suaraku terbata. Cairan bening mulai menggenangi mataku.
“Aku cinta kamu Ki. Cinta
yang hadir seiring kebersamaan kita dulu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu” kini
tanganku dalam genggaman Indra.
“BULLSHIT!!!!!” ku
hempaskan genggaman Indra. “ kalau kamu mencintaiku, kamu ga akan jauhi aku. Kalau
kamu mencintai aku kamu akan memeluku ketika aku menyatakan cintaku.” Kini aku
benar-benar menangis.
“Aku tahu. Aku salah. Tolong
maafin aku. Waktu itu aku takut dengan semua perasaan aneh ini. Tolong maafin
aku. Kamu harus tahu, aku juga merasakan sakit, sama seperti yang kamu rasakan”
“Ngga!!! Kamu ga tahu
apa-apa tentang rasa sakit ini. Kamu ga tahu gimana perjuangan aku untuk ngubur
rasa sakit ini. Kamu ga tahu dan ga pernah tahu!!!!” aku menangis. Suaraku terbata.
Nafasku tersenggal. Dan hati ini kembali meringis. Indra hanya terdiam. Tertunduk.
Suasana hening, tak ada lagi pembelaan yang diucapkan Indra.
“Apakah tak ada lagi kesempatan
untuku? Apakah perbuatanku telah benar-benar menghancurkan cintamu?” pelan aku
mendengar bibir Indra berucap dibalik tunduk kepalanya. Diriku yang telah dapat
mengotrol diri mencoba menjawab dengan tenang.
“Cintaku untukmu tak
kan pernah hilang. Cinta ini terpatri sangat kuat direlung hatiku. Dulu hingga
sekarang. Dan kata maaf yang kau ucapkan, adalah anugerah untukku. Jujur, aku
teramat sangat bahagia atas cinta yang kamu ungkapkan. Cinta yang aku nanti
sejak hati ini mengenal cinta. Aku pun berharap dapat memadu kasih denganmu. Namun
aku tak ingin cintaku dibayangi oleh kelam yang telah terjadi. Bukan maksudku
untuk membalas perlakuanmu dahulu. Aku hanya bosan dengan rasa sakit ini. Pergilah.
Lepaskan cintaku. Raih cinta terbaikmu, bersama orang yang lebih baik dariku.” Kini
Indra ikut meneteskan air mata.
“Sebaiknya kita segera
pulang. Aku ga mau yang lain mengkhawatirkan kita.” Aku melanjutkan. Dan aku
segera beranjak meninggalkan warung, setelah membayar apa yang kami pesan pada
penjaga warung yang sedari tadi setia menonton pertengkaran aku dan Indra.
Tak sepatah katapun
yang keluar dari mulut kami selama perjalanan pulang. Begitu pula hingga
liburan kami berakhir. Teman-temanku yang tampak keheranan, tak berani bertanya
tentang apa yang terjadi. Mereka diam. Dan berbicara dibelakang kami.
Setibanya aku dirumah, aku mendapat sebuah
pesan. Yang berisi:
“ Jika aku tak dapat
memasuki kehidupanmu sebagai pasangan jiwamu. Maka terimalah diriku sebagai
teman masa mudamu. Nb: save no aku yah. Indra Prasetya” aku tersenyum membaca
pesan dari Indra. Segera aku membalas “ U’ll always be my friend. My best
friend. Forever!!”
Langganan:
Postingan (Atom)